Bupati melakukan nenanaman pohon Mangrove di Pantai Kampung Wamesa, Manokwari. Pada Kesempatan itu ditanam 10 ribu anakan pohon Mangrove. Foto: CAHAYAPAPUA.com | Zack Tonu Bala

10 Ribu Pohon Mangrove Ditanam di Pantai Wamesa Manokwari

MANOKWARI– Sedikitnya 10 ribu anakan pohon mangrove ditanam di sepanjang pesisir pantai Kampung Wamesa, Distrik Manokwari Selatan, Manokwari, Papua Barat, Sabtu (22/11/2014).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian habitat hutan Mangrove di wilayah setempat yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami penyusutan.

Bupati Manokwari Bastian Salabai mengawali kegiatan tersebut dengan melakukan penanaman perdana bersama sejumlah pimpinan SKPD.

Aksi ini diprakarsai Forum Penanggulangan Bencana Kabupaten Manokwari bersama dengan Yakkum Emergency Unit (YEU), yang melibatkan sejumlah komunitas pencinta lingkungan, para pelajar, serta masyarakat setempat. Kegiatan ini juga didukung oleh Astra Motor Manokwari.

Kepala Distrik Manokwari Selatan, Paulus Ronsumbre menjelaskan, kawasan mangrove di kampung Wamesa merupakan sebagian kecil dari sekitar 19 ribu hektar hutan mangrove yang masih ada di Kabupaten Manokwari yang masih relatif terawat.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini hutan mangrove di kampung Wamesa juga terus mengalami kerusakan akibat kebiasaan warga setempat menebang untuk dijadikan bahan bangunan maupun untuk kayu bakar.

“Mangrove ini sangat bermanfaat untuk ketahanan ekosistem di kawasan pantai. Ini juga untuk mengatasi abrasi. Jadi kita perlu lestarikan karena selama ini sudah banyak yang mengalami degradasi, “ ujar Paulus.

Eli Sunarso, pimpinan YEU Manokwari menuturkan, di banding dengan lokasi lain di Manokwari, hutan mangrove di kampung Wamesa termasuk yang masih cukup terawat. Meski begitu, upaya rehabilitasi tetap harus dilakukan untuk memperbaiki titik-titik yang mengalami kerusakan.

Kegiatan rehabilitasi itu juga bagian dari kampanye pentingnya menjaga kelestarian habitat mangrove untuk kebaikan masyarakat setempat.

“Dulu sebenarnya pohon mangrove di sini banyak, tapi banyak sudah dibongkar atau ditebang untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar. Ketika kita memberi penyadaran pentingnya kesiapsiagaan, pentingnya pohon mangrove dan lain-lainnya mereka menyadari oh kita salah selama ini, jadi kita perlu untuk tanam (lagi) “ jelas dia.

Bupati dalam sambutannya menegaskan, kelestarian habitat mangrove sangat penting untuk keberlanjutan hidup masyarakat terutama yang berdiam di kawasan pesisir. Untuk itu, Bupati mengajak semua elemen masyarakat untuk tidak merusak kawasan hutan mangrove yang sudah ada.

“Pohon mangrove ini jangan ditebang, tetapi dijaga dirawat agar bisa menjadi penahan abrasi di tempat ini dan juga dapat memberikan keuntungan ekologis bagi masyarakat dan anak cucu kita, “ kata Sabalai.

Rika Rumadas, warga kampung Wamesa mengaku dirinya sudah terbiasa menebang pohon mangrove atau yang dalam bahasa lokal disebut kayu mange-mange untuk kayu bakar dan untuk bahan membuat rumah atau pondok.

Tapi itu dulu. Kini dia menjadi salah seorang penggiat lingkungan yang dengan tidak kenal lelah mengajak warganya untuk tidak lagi menebang pohon bakau secara sembarangan.

“Sudah stop (tebang). Sekarang ini tebang satu, tanam seratus, “ tandas Mama Rumadas, demikian panggilan karibnya di lokasi penanaman. |ZACK TONU BALA

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan