Ilustrasi Korupsi.

Terdakwa Korupsi PNPB Djanuri Sering Kirim Uang ke Istri Sirihnya

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dengan terdakwa eks Bendahara Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Bintuni, Djanuri, berlangsung di Pengadilan Tipikor, Manokwari, Senin (11/1) siang.

Sidang yang berjalan kurang lebih 1 jam dipimpin Ketua Majelis Hakim, Aris S. Harsono menghadirkan tiga orang saksi Isteri sirih Terdakwa Iis Dahlia Saputri (24 tahun), Thomas dan Yulianus Isir alias Yawis.

Dalam persidangan yang berlangsung aman itu, kembali terungkap bahwa terdakwa Djanuri pernah mentransfer sejumlah uang kepada Isteri keduanya itu. “Saya sering menerima uang dari pak Djanuri. Kalau saya minta selalu dikasih. Paling besar yang pernah saya terima sebesar 5 juta rupiah, yang ditransfer pak Djanuri,” kata Iis dihadapan Hakim.

Selain itu, kata perempuan yang pernah bekerja sebagai penyanyi dari panggung ke panggung ini, ia juga sudah dibangunkan rumah, dibelikan motor dan sering diajak jalan-jalan keluar kota oleh terdakwa Djanuri.

“Pak Djanuri sudah bangunkan rumah di SP 3 Bintuni pada 2013. Dibelikan motor metik kurang lebih seharga 18 juta, dan saya juga pernah mendengar kalau pak Djanuri punya kos-kosan di SP 5 Bintuni,” ungkap wanita yang dinikahi sejak 2012 di Malang oleh terdakwa.

Rumah yang dibangun oleh Djanuri itu berada diatas tanah milik orang tua Iis. Iis mengaku sertifikat tanah rumah tersebut, surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan STNK sudah disita oleh polisi.

Sementara saksi Thomas mengungkapkan selama ini dirinya tidak mengenali terdakwa Djanuri. Dirinya bertugas sebagai agen yang melaporkan data kapal dan koordinasi dengan syahbandar, bea cukai, BP tangguh dan karantina. “Baru pertama kali lihat bendahara, yakni di depan ruang sidang. Sebelumnya sama sekali belum pernah ketemu,” katanya.

Sedangkan saksi Yulianus Isir alias Yawis membenarkan adanya uang yang diberikan dari terdakwa Djanuri sebesar Rp. 100 juta. Uang tersebut adalah dana awal pembayaran proyek penimbunan jalan pelabuhan Teluk Bintuni. Pada saat itu Tavip Onasis Manobi sebagai kepala Kantor UPP Kelas III Bintuni.

Dalam proyek tersebut, ia mengatakan, tidak ada kontrak kerja maupun lelang. Pasalnya, sumber dana yang digunakan untuk pembayaran proyek tersebut juga tidak diketahui oleh saksi dari mana asalnya.

Katanya, proyek tersebut dikerjakan dengan temannya bernama Nober. Dalam pekerjaannya saksi mengaku mendapat uang Rp. 200 juta, dan kemudian dibagi masing-masing Nober 100 juta dan saksi 100 juta.

Dari 3 saksi ini, hakim menyatakan tidak ada satupun saksi yang keterangannya meringankan terdakwa. Sidang kasus ini akan dilanjutkan pada pekan depan. |ADLU RAHARUSUN