Ilustrasi Narkoba

Bangkitan Gerakan Moral Melawan Narkoba..!

GERAKAN moral dari seluruh elemen masyarakat bersama pemerintah harus dibangkitkan. Untuk menekan laju kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di Provinsi Papua Barat.

“Narkotika dan obat-obatan terlarang sudah menjadi life style masyarakat. Yang justru merubah moral, karakter membentuk cara berpikir masyarakat. Ini perlu diantisipasi dari awal. Gerakan moral harus dibangkitkan,” kata Direktur Yayasan Cinta Papua Sehat, Napoleon Fakdawer ketika ditemui awal pekan ini.

Gerakan moral itu bisa dimulai dengan menggalakan sosialisasi termasuk melakukan kajian ilmiah terhadap kebiasaan masyarakat di tanah Papua yang mengonsumsi narkoba alamiah dan minuman keras.

Kata Napoleon, di daerah Merauke, Papua, masyarakat mengenal minuma wati sejak turun temurun yang bertujuan untuk menambah energi.

Akan tetapi, perkembangan zaman, kecanggihan tekonologi dan informasi sehingga pola ini sudah berubah. Sehingga lebih banyak moderatnya ketimbang manfaat.

“Pendekatan-pendekatan humanis perlu dikemukakan dalam menyelamatkan karakter masyarakat. Senergitas para pihak dalam konteks lokal perlu diatur dalam sebuah regulasi sehingga lebih kuat,” ujar Napoleon.

Hasil evaluasi Badan Narkotika Nasional (BNN), Indonesia masuk dalam kategori darurat narkoba. Sebanyak 33 orang perhari mati sia sia karena penyalahgunaan narkoba.

Dan, setahun angka kematian menembus 20.1150 orang. Dengan 18 ribu prevalensi atau sebesar 2,2% dari jumlah penduduk. Prevalensi narkoba di Papua Barat 1,57 % atau setara dengan 9.952 orang.

Papua Barat menempati urutan ke 29 dari 34 provinsi se-Indonesia. Untuk itu, menjadi tanggungjawab semua pihak dalam menuju generasi emas Indonesia pada 2045. “Narkobah sudah menyasar usai 10-50 tahun,” kata kepala BNNP Papua Barat, Benny Pattiasina.

Hasil pemetaan BNNP Papua Barat, Kota Soong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, Fakfak, Kaimana, dan Teluk Bintuni merupakan daerah dengan potensi tertinggi penyalahgunaan narkoba.

Kota Sorong menepati nomor wahid dalam urusan penyebaran narkoba secara ilegal. Faktor ini karena daerah tersebut merupakan pintu perekonomian dan fasilitas umum memadai serta didukung aksesibilitas transportasi.

“Memberantas narkoba seperti mencari jarum dalam jerami. Butuh dukungan masyarakat. Minimal melaporkan kalau tahu soal penyalahgunaa narkoba. Masyarakat yang melapor akan mendapat reward,” ujar Benny.

Benny menegaskan, penyalahgunaan narkoba berdampak multidimensi. Yang mempertaruhkan integrasi bangsa. Sehingga, narkotika termasuk dalam kategori extra ordinary crime dan transisional crime.

“Narkotika mengakibatkan kerusakan otak yang bersifat permanen. Mulai sekarang, kita lakukan pola pencegahan yang dimulai dari Ibu hamil,” jelasnya.

Penyalahgunaan narkoba ada pada dua aspek yakni, aspek kesehatan dan kriminal. Sebanyak 100 ribu orang di Indonesia harus direhabilitasi. BNNP Papua Barat kebagian jatah 642 orang yang harus direhabilitasi.

“Kinerja BNNP Papua Barat sudah cukup maksimal dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap penyalahgunaan narkotika,” tutur Napoleon.

Meski demikian, masih ada persoalan besar yang harus dijawab. Yakni sarana untuk rehabilitasi bagi para pencandu narkotika mengingat di Papua Barat kasusnya sangat tinggi.

“Ini harus diperhatikan supaya sudah dianggarkan supaya proses rehabilitasi yang harus didorong. Bukan proses hukumnya termasuk bagi para pecandu alcohol,” tandasnya.

Di Papua Barat, BNNP telah bekerjasama dengan RS Angkatan Laut Kota Sorong. Kapasitas tamping sebanyak 100 orang. “Masih kurang banyak. Di tiap pintu masuk belum ada detektor kimia. Yang ada baru untuk logam saja,” kata Benny menerangkan soal keterbatasan sarana.

Diakuinya, kasus penyalahgunaan narkoba di Papua dan Papua Barat adalah jenis ganja. Selain murah, jumlah perokok di daerah ini cukup tinggi.

Tercatat, sebanyak 64 persen masyarakat Indonesia adalah perokok. Penyalahgunaan narkoba ini berkorelasi dengan penularan HIV dan AIDS.

Penularan penyakit yang belum ada obatnya ini terjadi melalui jarum suntik sebesar 39 persen. Sementara 61 persen adalah hubungan seks yang beresiko. Indonesia menjadi pangsa terbesar ketiga di dunia. Dan nomor satu di Asia sebagai penggunaan narkoba.

“Budaya merokok dam minum minuman keras memudahkan narkotika masuk ke daerah ini. Butuh peran serta semua elemen masyarakat,” pungkasnya.

Disisi lain, Napoleon mengemukakan, bahaya narkoba seperti mega tsunami sehingga, semua pihak perlu bergandeng tangan dan merapatkan barisan untuk mengatakan ‘perang’ terhadap barang haram ini.

“Tidak saja Polisi, BNN, aktivis tetapi, masyarakat juga harus ikut memerangi narkoba yang tingkat kasusnya di papua barat sudah memprihatinkan. Kita akan menyesal jika terlambat,” akunya.

Napoleon menambahkan, kini peredaran ganjah tidak saja disuplai dari PNG dan Aceh. Menjadi ironi dimana ganja sudah dibudidayakan di kota manokwari.

Bahkan, bukan sekadar untuk dikonsumsi sendiri melalinkan dikomersilkan juga. “Inilah tantangan besar kita. Hari ini, peredaran ganja sangat mudah diperoleh dengan Rp.50 ribu sudah bisa mendapatkan 2-3 linting,” tutup Napoleon. |RASYID FATAHUDDIN