Masyarakat Ekonomi Asean

Disnakertrans : Pasar MEA Peluang Untuk Tekan Pengangguran

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com- Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),diakhir 2015 lalu, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi tenaga kerja lokal untuk bersaing merebut pasar tenaga kerja di negara-negara ASEAN dan internasional.

Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat, Ermawati Siregar, mengatakan, peluang pasar MEA bisa dimanfaatkan untuk menekan laju angka pengangguran terbuka di daerah ini.

“Sebagaimana kita ketahui dengan diberlakukannya MEA ini, terdapat berbagai ancaman dan tantangan, namun juga menjadi peluang bagi tanaga kerja kita” kata Erma saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/1/2015).

Menyikapi tantangan MEA, Disnakertarans Papua Barat telah melakukan berbagai upaya peningkatan kapasitas keahlian bagi tenaga kerja melalui pelatihan-pelatihan dan uji kompetensi keahlian serta sertifikasi keahlian sesuai bidang keahlian yang dibutuhkan dalam bursa tenaga kerja ASEAN.

“Diera MEA ini, banyak Tenaga Kerja Asing (TKA) dari semua negara ASEAN akan masuk ke Indonesia untuk bersaing merebut semua jenis pekerjaan,” ujarnya

Ia mengajak semua instansi dan perushaan-perusahaan, bisa mempersiapkan tenaga kerja yang terampil dan memiliki keahlian tertentu dan memiliki sertifikasi tenaga kerja bertaraf Internasional, sehingga dapat digunakan sebagai syarat bersaing di kanca MEA maupun dunia.

“Tenaga kerja maupun calon tenaga kerja lokal di Papua Barat ini harus memiliki sertifikat uji kompetensi yang terdaftar secara internasional,” terang Erma.

Sertifikat keahlian dari lembaga sertifikasi, kata dia, bisa digunakan tenaga kerja lokal Papua Barat,untuk bersaing dengan tenaga kerja dari dari Negara-Negara Asean maupun negara-negara maju di dunia.

“Sertifikasi ini jangan hanya berskala lokal saja, tetapi harus berskala internasional, sehingga tenaga kerja kita tidak hanya bersaing dengan tenaga kerja Asean tetapi juga dapat bersaing dengan tenaga kerja di negara-negara maju di kawasan Eropa, Amerika dan sebagainya,”kata dia menambahkan.

Dia menilai potensi tenaga kerja lokal dibidang keahlian tertentu di daerah ini cukup banyak, namun sebagian besar mereka belum mengikuti uji standar kompetensi, sehingga belum memiliki sertifikat keahlian.

“Misalnya tenaga kerja kita yang asli Papua, keahlian dibidang pertambangan dan konstruksi, tetapi rata-rata mereka belum memiliki sertifikasi kompetensi,” ujarnya.

Untuk itu, ia berharap peran semua pihak untuk mendorong penguatan kapasitas keahlian bagi calon tenaga kerja dan tenaga kerja yang ada saat ini, agar dapat terus meningkatkan kapasitas keahliannya.

“Ini sebenarnya peluang yang baik bagi, kita punya tenaga kerja untuk bersaing dengan tenaga kerja asing di papua barat, nasional, Asean bahkan internasional” tandas Erma. | MUHAMMAD RIZALDY | EDITOR : TOYIBAN