Warga mengamati patung Yesus di puncak Pulau Mansinam, Manokwari yang menghadap ke Kota Manokwari, Papua Barat. Patung Yesus setinggi 30 meter sebagai tanda peringatan penyebaran peradaban, pendidikan, dan agama di Papua, yang dimulai pada 5 Februari 1855 oleh dua pendeta Kristen, Ottow dan Geisher. Foto: |SP|Roberth Vanwi

HUT PI Harus Dimaknai dengan Memperbanyak Perbuatan Baik

WASIOR, CAHAYAPAPUA.com-Perayaan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil ke-161 pada 5 Pebruari nanti hendaknya menjadi momentum bagi setiap orang Kristen di Tanah Papua terutama jemaat Gereja Kristen Injil (GKI) untuk lebih giat lagi memberitakan Injil itu sendiri melalui tindakan nyata.

Memberitakan Injil tidak harus berdiri di mimbar gereja kemudian berkhotbah. Namun yang utama adalah memaknai Injil Kristus lewat perbuatan baik kepada semua orang tanpa memandang perbedaan.

Pesan ini disampaikan Klasis GKI Wondama merujuk pada tema sentral perayaan hari masuknya Injil di Tanah Papua itu tahun ini yakni ‘Celakalah Mereka yang Tidak Menginjili’.

“Orang GKI di Wondama harus lebih lagi memberitakan Injil agar banyak orang terselamatkan dengan melakukan hal-hal yang baik secara nyata.  Supaya banyak orang bisa ikut, bukan ikut masuk GKI tapi bisa ikut melakukan hal baik itu,” kata Sekretaris Badan Pekerja Klasis GKI Wondama Pendeta Barnabas Wonggor di kantor klasis di Miei, Rabu siang.

Untuk tahun ini, perayaan HUT PI tidak dipusatkan di Bukit Aitumieri, tempat yang juga menjadi bagian penting dari sejarah masuknya Injil di Bumi Cenderawasih. Masing-masing jemaat dibebaskan menggelar ibadah dan perayaan sendiri-sendiri.

“Pertimbangannya sering kita gabung biasanya yang datang (ibadah) sedikit. Sedangkan tujuan ibadah itu pemberitaan Injil di masing-masing jemaat sehingga umat bisa memaknai peristiwa Injil masuk ke tanah Papua itu dengan baik,” jelas mantan pendeta kepala jemaat Baitesda Manggurai ini.

Meski demikian, ada sejumlah wilayah/lingkungan yang menggelar ibadah gabungan. Yakni lingkungan 2 dipusatkan di Pulau Ron, lingkungan 3 di Windesi dan lingkungan 4 di Sararti, Naikere.

“Hanya lingkungan 1 yang ada di semenanjung ini dari Sobey sampai Sendrawoy yang masing-masing melakukan ibadah di jemaatnya,” ucap pendeta berdarah Arfak ini.

Sementara itu di Manokwari, Asisten I Setda Papua Barat Musa Kamudi menyatakan, memperingati 161 tahun masuknya Injil di pulau Mansinam sebagai awal sejarah pekabaran Injil di tanah Papua harus dimaknai oleh masyarakat Papua. Ia juga meminta masyarakat menjaga keamanan dan kenyamanan.

“Menyambut perayaan 161 tahun pekabaran Injil di tanah Papua kami harapkan masyarakat dapat memaknai pentingnya sejarah pekabaran Injil dengan mensukseskan kegiatan perayaan,” ujar Kamudi di ruang kerjanya, Rabu (3/2/2016).

Ia menyebutkan, dalam rangka partisipasi penyelenggaraan perayaan hari pekabaran injil ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat telah membentuk panitia penyelenggaraan perayaan hari pekabaran Injil di tanah Papua.

Ia juga menambahkan, selain perayaan hari pekabaran Injil tanggal, Pemerintah Provinsi Papua Barat juga akan menggelar apel Pesta Budaya tanggal 6 Februari 2016 mendatang di lapangan Borarsi Manokwari.

“Selain tanggal 5 Februari, kita juga akan gelar kegiatan hari devisiasi, atau hari Budaya Papua Barat tanggal 6 Februari 2016 mendatang” Kamudi menambahkan.

Ia menyebutkan, bentuk kegiatan pesta Budaya tahunan akan menampilkan seni budaya suku-suku nusantara di Papua Barat yang akan dimulai dari halaman rumah sakit TNI AL menuju lapangan Borarsi.

“Peserta Pesta Seni Budaya di Papua Barat akan dilepas dari halaman rumah sakit AL, kemudian peserta akan melakukan longmarch dengan menampilkan seni budayanya hingga finish di lapangan Borarsi,” terang Kamudi.

Ia juga menyebutkan, apel pesta Seni Budaya Papua Barat direncanakan akan dipimpin langsung Gubernur Papua Barat, Abraham O. Atururi. | ZACK TONU BALA |RIZALDY