Kelompok seni tari Suku Arfak Kampung Bremi Distrik Manokwari Timur saat mengikuti Karnaval dalam rangka festival Hari Seni Budaya dan Hari Reaktifitas Provinsi Papua Barat, Sabtu 6 Februari lalu.

Hari Seni Budaya: Sarana Persatuan dan Kesatuan Suku Bangsa di Papua Barat

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Sebanyak 42 kelompok seni budaya dari suku-suku Papua dan kelompok suku etnik nusantara, 6 Febuari lalu meramaikan festival seni budaya Papua Barat.

Festival bertajuk “Keharmonisan dalam Keberagaman” ini merupakan kegiatan rutin pemerintah provinsi Papua Barat sebagai upaya pelestarian seni budaya kekayaan bangsa.

Demikian ketua panitia hari seni budaya dan reaktivitas provinsi Papua Barat Fransiskus Kosamah saat membacakan laporan pelaksanaan kegiatan pada apel hari seni budaya dan reaktivitas provinsi ini.

“Hari Seni Budaya Provinsi Papua Barat tahun 2016 merupakan agenda rutin pemerintah provinsi Papua Barat dalam rangka memperingati pembukaan selubung papan nama Pemerintah Provinsi Irian Jaya Barat pada tanggal 6 Februari 2003,” ucap Kosamah soal sejarah Papua Barat.

Memperingati tanggal 6 Februari 2003, Gubernur Papua Barat, Abraham O. Atururi pada masa itu mencanangkan penetapan peringatan hari pembukaan selubung papan nama provinsi Irian Jaya Barat sebagai hari reaktivitas dan hari seni budaya provinsi Papua Barat.

Kegiatan ini lanjut Kosamah sebagai upaya menjaga dan melestarikan seni budaya sebagai kekayaan bangsa di NKRI dan khususnya keragaman seni budaya suku-suku asli Papua dan etnik suku nusantara lainnya yang ada di Papua Barat.

Kegiatan ini lanjut Kosamah bertujuan untuk memaksimalkan peran masyarakat dalam pembangunan seni budaya dan sebagai sarana membina persatuan dan kesatuan suku bangsa di provinsi ini.

Kegiatan yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah provinsi Papua Barat ini, diramaikan oleh atraksi seni budaya dari suku-suku Papua dan etnik suku nusantara yang tinggal di provinsi ke 33 dari 35 provinsi di Indonesia ini.

Sejumlah pertunjukan seni seperti tari-tarian adat, musik tradisional dan ragam pakaian khas suku-suku asli Papua dan ragam etnis nusantara, juga tak ketinggalan kelompok polisi cilik atau pocil dan para atlet PON Papua Barat yang akan bertanding pada PON ke 19 di Jawa Barat juga turut meramaikan festifal seni budaya ini.

Gubernur Papua Barat Abraham O. Atururi dalam sambutannya menyatakan rasa bangganya atas pelaksanaan kegiatan tahunan ini, dimana antusiasme masyarakat terhadap pegelaran festival ini terus meningkat setiap tahunnya. Ia juga mengajak masyarakat Papua Barat untuk mengenang peristiwa bersejarah perjuangan pemekaran provinsi ini.

“Kalau kita merefleksikan kembali apa yang sama-sama kita perjuangkan 14 tahun silam itu sangat melelahkan, tetapi dibalik itu semua, walau penuh dengan halangan dan tantangan, namun provinsi ini berhasil melaluinya hingga saat ini berada pada babak baru pembangunan kearah yang lebih baik,” kenang Bram.

Bram juga sedikit memberi kilas balik kepemimpinannya selama 10 tahun sebagai gubernur Papua Barat definitif, yang tersisah 11 bulan lagi. Ia menyatakan apel yang ia pimpin itu merupakan apel terakhir dirinya selama menjabat sebagai gubernur Papua Barat, sehingga ia merasa bangga atas segala capaian selama ia memimpin provinsi ini.

“Saya merasa bangga selama kurang lebih 10 tahun menjabat sebagai gubernur definitif, banyak hal spektakuler yang telah diraih pemerintahan yang saya pimpin,” klaim Bram.

Ia menyatakan salah satu hasil pembangunan yang dirasa cukup signifikan yaitu dibidang kesenian dan kebudayaan, dimana melalui seni budaya mampu merubah pola pikir dan pola sikap yang dapat melahirkan ide dan gagasan anak bangsa di negeri ini.

Ia berharap agar kebersamaan dalam keberagaman suku bangsa di Papua Barat ini dapat melahirkan keharmonisan hubungan seluruh masyarakat di papua barat.

“Saya berharap nuansa keberagaman ini dapat terus berlanjut ke masa-masa yang akan datang untuk meraih masa depan provinsi ini seperti yang kita cita-citakan bersama” tandas Bram. | RIZALDY