DPO kasus korupsi yang menjadi buron selama 10 tahun akhirnya ditangkap di Kota Sorong.

Buron 10 Tahun, DPO Korupsi PNBP Mimika Diringkus di Sorong

SORONG, CAHAYAPAPUA.com   Setelah berhasil melarikan diri selama 10 tahun, akhirnya terpidana kasus korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Pelabuhan Mimika, Papua, Abdul Hakim Saifudin alias AHS berhasil diringkus Kejaksaan Negeri Sorong di Pelabuhan Rakyat Sorong, Jumat (5/02/2016).

Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri Sorong, Muhamad Reza kepada sejumlah awak media di Mapolres Sorong Kota, Senin (8/02/2016) mengatakan, setelah pihaknya mendapat informasi dari Adhyaksa Monitoring Centre Intelejen Kejaksan Agung RI bahwa Kejaksaan Negeri Timika membutuhkan bantuan untuk mencari 1 DPO kasus korupsi PNBP Pelabuhan Mimika yang diduga berada di areal wilayah hukum Kejari Sorong.

Atas dasar itu pihaknya berkoordinasi dengan kejaksaan Negeri Timika dan Kejagung tentang keberadaan DPO, AHS yang saat itu disinyalir  berada di Pulau Gebe dan tanggal 4 Februari akan berangkat ke Sorong.

Selanjutnya, Kejaksaan Negeri Timika melalui Adhyaksa Monitoring Centre Kejagung mengirim ciri-ciri fisik dari mantan bendahara Direktorat Perhubungan laut Mimika itu. “Dari ciri-ciri itu kami memantau kapal yang dari Gebe ke Sorong, pada hari sabtu (6/02/2016) KMP Arar milik ASDP dari Pulau Gebe dan tiba di Sorong sekitar pukul 16.45 WIT, intelejen Kejari Sorong langsung melakukan pemeriksaan terhadap penumpang yang ciri-cirinya mirip dengan identitas yang dikantongi, akhirnya kami berhasil menemukan DPO, ” kata Kasi Intel Kejari Sorong.

Kemudian terpidana korupsi dana PNBP Pelabuhan Timika  senilai Rp 2 Milyar itu diantar ke kantor Kejaksaan Negeri Sorong untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut serta koordinasi dengan Kejari Timika.

Sementara untuk eksekusi tahanan terpidana korupsi Abdul Hakim Saifudin,Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri Timika, Muhamad Rizal,SH bersama Kasi Intel Kejari Sorong melakukan koordinasi dengan pihak Lapas Klas II B Sorong, Senin (8/02/2016).

Namun belum bisa dilaksanakan sebab staf administrasi lembaga pemasyarakatan belum masuk karena libur hari raya Imlek, sehingga ditunda hingga Selasa (9/02/2016), terpidana korupsi itu sementara dititipkan di Rutan Polres Sorong Kota.

“Jadi mereka (Kalapas Sorong) siap membantu untuk dilakukan eksekusi tapi karena hari libur jadi ditunda sampe hari selasa (hari ini) dieksekusi di Lapas Sorong atas permintaan Terpidana dan persetujuan kajari Timika” ujar Rizal.

Rizal mengungkapkan bahwa boronan korupsi Rp 2 Milyar ini sudah melarikan diri dari Timika sejak tahun 2006 lalu setelah mahkamah Agung memvonis AHS bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang bersumber dari Pendapatan Negera Bukan Pajak (PNBP) Pelabuhan Mimika, dengan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan, Hingga tahun 2016 baru berhasil ditangkap dan dieksekusi.

Sedangkan terpidana korupsi dana PNBP Pelabuhan Mimika, Abdul Hakim Saifudin mengatkan, dirinya melarikan diri karena tidak terima dengan amar putusan mahkamah agung. “Karena saya ini bawahan jadi kalau ini sudah kasus maka harusnya pimpinan duluan yang dihukum baru saya, tapi kalau saya sendiri berarti dana itu saya sendiri yang gunakan, padahal pimpinan, Robert Naa yang menikmatinya” ungkapnya.

Abdul menjelaskan bahwa awalnya sebagai boronan, pada tahun 2007 dirinya berangkat ke Jakarta untuk mengklarifikasi ke kantor pusat namun tidak diindahkan, setelah kembali  dari jakarta tidak ke Timika  tapi langsung ke kampungnya, Pulau Gebe, Halmahera, Maluku Utara.
Karena tidak ada pekerjaan, terpidana bercocok tanam kemudian ke Sorong untuk menjual hasil kebunnya akhirnya di tangkap pihak kejaksaan. |NASIR