Wakil Gubernur Papua Barat, Irene Manibuy

SORONG, CAHAYAPAPUA.com— Pengukuhan dan pengangkatan Wakil Gubernur Papua Barat Irene Manibuy sebagai Bakit (sebutan perempuan) Maybrat oleh sejumlah masyarakat Maybrat di Kampung Kambufatem, Distrik Aitonyo, Maybrat 5 Februari 2016 lalu, didinilai sebagai pelecehan terhadap budaya orang asli Maybrat, terutama perempuan Maybrat.

Tokoh Perempuan Maybrat, Mery Isir Kambu selaku ketua Forum Finya Mana Sau Ro (FOFIMASA) Maybrat menyatakan menolak pengukuhan tersebut yang dilakukan Bapak Raja Matias Kambu bersama enam tokoh lainnya.

“Alasan penolakan dari kami perempuan Maybrat adalah, tidak ada alasan yang mendasar dan kuat untuk mengukuhkan Ibu Irene Manibuy sebagai perempuan (Bakit) Maybrat. Dua, Kita harus menjunjung tinggi dan menghargai nilai budaya setiap komunitas perempuan Maybrat tanpa harus melecehkan Budaya. Tiga, Pengukuan yang diberikan kepada Ibu Irene manibuy tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu dengan perempuan Maybrat melalui Forum perempuan Maybrat FOFIMASA,” tegas Mery Isir, Selasa (9/3) di Sorong.

Mery mengatakan pertanyaan mendasar dan filosofis yang perlu diajukan adalah apa sebab dan criteria mendasar sehingga pemberian gelar Bakit Maybrat tersebut disematkan kepada Irene. Sebab secara antropologis, ia mengatakan, orang Maybrat tergabung dalam kelompok sub budaya Papua (Bomberai) yaitu kelompok masyarakat yang memiliki kesaman sosial budaya yang mendiami wilayah kepala burung. Kelompok suku ini menganut sistem patrinear dimana gelar (marga) pria dan perempuan mengikuti garis ayah sehingga dalam kalangan orang Maybrat Pria Muda disebut Akut dan perempuuan muda disebut Bakit.

Dalam konteks Irene Manibuy diberi gelar oleh sekelompok orang Maybrat yang mengatasnamakan Maybrat, ia mengatakan sangat tidak mendasar, sebab tidak memperoleh dukungan atau rekomendasi dari tiga suku besar yang mendiami wilayah Maybrat, yakni Ayamaru, Aitinyo dan Aifat.

Ia juga menegaskan dalam kebudayaan orang Maybrat tidak pernah dikenal ada tradisi pemberian gelar atau marga kepada orang non Maybrat sebagaimana yang terjadi di wilayah lain.

“Jika Irene Manibuy diberi gelar atas dasar karya baktinya kepada orang Maybrat, yang menjadi pertanyan adalah apa maha karya yang telah dibuat oleh Irene kepada masyarakat Maybrat selama ini, sehinga Ia (irene) diberi gelar Bakit Maybrat.?

Kita orang Maybrat masih inggat Mr. Billy Brown yang tinggal di Kambuaya selama 30 Tahun untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Maybrat–Indonesia, Indonesia-Maybrat, tetapi, Mr. Bill sendiri belum pernah dinobatkan sebagai Akut Maybrat.

Jika dibandingkan karya dan waktunya, Ia membuat suatu maha karya yang agung,” pungkasnya sembari mengatakan kedepannya, banyak generasi penerus tidak bisa berbahasa Maybrat, tetapi mereka bisa belajarnya dari Alkitab Bahasa Maybrat- Indonesia yang ditulis oleh Billy Brouwn.

Oleh karena itu, ia menegaskan selaku perempuan Maybrat dan masyarakat Maybrat secara luas yang ada di seluruh tanah Papua, ia mendesak Bapak Raja Kabufatem bersama beberapa tokoh yang telah menobatkan Irene Manibuy sebagai Bakit Maybrat, segera menarik gelar tersebut.

“Irene Manibuy sebagai wanita Papua yang punya asal-usul suku yang jelas, berbudaya dan bermartabat, segera meminta maaf dan menyatakan tidak menyandang status Bakit Maybrat. Ini wujud penghargaan sesama suku bangsa yang mendiami tanah Papua.

Jika tuntutan kami ini tidak digubris oleh kedua pihak diatas, kami segenap masyarakat adat Maybrat akan mengalang seluruh kekuatan Maybrat untuk melakukan tuntutan adat hingga sidang adat di Majelis Rakyat Papua Barat,” tegas dia.

Sementara itu, Ruht Osok, Perwakilan Pokja Perempuan MRP Papua Barat, mengatakan, menyangkut masalah ini ia mengatakan Irene tak bisa disalahkan karena kehadirannyadi Maybrat sebagai tamu, namun tuntutan dan aspirasi perempuan Maybrat adalah wajar-wajar saja. |NASIR