Mantan Wabup Zeth B. Marani Memberikan Angpao Kepada Anak-anak Kecil pada Perayaan Imlek yang Digelar Warga Turunan Tionghoa Wondama

Rayakan Imlek, Warga Turunan Tionghoa Siap Dukung Pemerintahan Baru

WASIOR, CAHAYAPAPUA.com Meskipun sudah berubah rupa dan warna kulit, warga Teluk Wondama keturunan Tionghoa tetap tidak melupakan budaya dan tradisi leluhur mereka.

Warga keturunan yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Tionghoa Wondama pun ikut merayakan datangnya Imlek atau Tahun Baru China. Perayaan Imlek ditandai dengan ibadah syukur yang dipusatkan di rumah jabatan Ketua DPRD Kuro MR. Tan Matani di Manggurai, Senin petang.

Selain ratusan warga keturunan Tionghoa, ikut hadir mantan Wakil Bupati Zeth B. Marani, Kapolres AKBP Frits Sokoi, mantan Ketua KPUD Dan Go Marani yang juga selaku sesepuh keluarga besar Tionghoa Wondama, ketua LMA Yulianus Torey serta sejumlah pejabat dan anggota DPRD Teluk Wondama.

Warga keturunan Tionghoa di Wondama ternyata tidak sedikit. Hingga kini yang sudah terdata sebanyak 133 KK dengan jumlah jiwa mencapai 1.265 orang.

“Bersama-sama dengan warga lain kita ada untuk membangun Wondama, “ ujar Kuro Matani selaku ketua panitia saat memberikan laporan.

Menurut kalender China adalah tahun 2016 adalah tahun monyet api yang melambangkan semangat yang membara-bara.

Karena itu, diharapkan perayaan Imlek tahun ini membawa semangat dan motivasi baru bagi warga turunan Tionghoa Wondama untuk terus berperan aktif dalam pembangunan. Apalagi, Wondama akan segera memiliki pemimpin baru.

“Kerukunan keluarga Tionghoa akan mendukung penuh visi misi bupati dan wakil bupati terpilih. Dan kami siap memberikan semangat untuk kita sama-sama sukses di 2016 sampai seterusnya, “ tandas Kuro.

Diperkirakan, orang Tionghoa pertama kali masuk di Papua termasuk di Wondama pada sekitar tahun 1930-an untuk mencari burung Cenderawasih. Menurut Dan Go Marani, pada saat itu, mereka membeli burung Cenderawasih dengan cara barter yakni menukarnya dengan piring besar.

“Piring besar dari China itu lah yang akhirnya dipakai kita di Papua sebagai mas kawin sampai sekarang ini, “ jelas Dan Go saat menceritakan riwayat singkat tentang kehadiran orang Tionghoa di Wondama.

Sebagaimana tradisi di China, perayaan Imlek ini juga diisi dengan pembagian angpao bagi anak-anak kecil. (BRV)