Agus Kereway

Agus Kereway, Pace Tenda Biru dari Aisandami

Agus Kereway, hanya bisa pasrah. Selama enam tahun terakhir, pria asal Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duari ini terpaksa tinggal di rumah yang seluruh bagian dindingnya menggunakan terpal. Rumah berukuran 6 x 6 itu pun hanya dilapisi daun sagu sebagai pelindung dari panas dan hujan. Kemiskinan membuat Agus tak berdaya. Dia bersama istri dan anak-anaknya harus menerima nasib tinggal di rumah yang jauh dari layak.

 

Oleh : ZACK TONU BALA

 

AGUS TENDA BIRU, begitu dia biasa disapa oleh orang-orang di kampungnya. Julukan ini merujuk pada tempat tinggal Agus yang nyaris seluruhnya berbungkus terpal warna biru. Rumah yang ditempati Agus merupakan rumah sosial bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua pada tahun 1991 (dulu masih Provinsi Irian Jaya). Ketika itu Teluk Wondama masih menjadi bagian dari Kabupaten Manokwari.

“Dulu awalnya pakai dinding papan dan atap seng. Tapi karena sudah tua jadi seng rusak, saya ganti pakai atap (daun sagu). Dinding juga begitu,sudah rusak jadi saya mau ganti dengan papan tapi tidak ada uang pake beli jadi saya cuma pake tenda (terpal) saja,” cerita Agus saat ditemui Cahaya Papua di rumah salah seorang nelayan di Wasior, Selasa (2/2).

“Saya pakai tenda biru itu mulai 2009. Bukan hanya diluar, di dalam untuk bagi kamar juga pake tenda semua,”lanjut pria yang mengaku kelahiran 1972 ini.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Agus hanya bersandar pada laut. Dia mengandalkan profesi yang diwarisi secara turun temurun sebagai nelayan tradisional dan peramu. Namun, uang yang didapat dari hasil melaut, nyaris tak pernah cukup untuk sekedar makan sehari-hari.

“Ikan ada dapat, tapi tidak bisa bawa ke Wasior (untuk jual) karena saya tidak ada jhonson (mesin tempel) jadi paling jual ke tetangga ke guru atau mantri yang beli. Uang itu yang pake beli beras untuk makan di rumah,” jelas ayah 5 anak ini.

Ketidakberdayaan secara ekonomi ini lah yang membuat Agus tidak mampu membeli papan untuk menutupi dinding rumahnya.Sementara untuk meminta bantuan kepada keluarga atau kerabat terdekat di kampung pun Agus merasa malu.

“Kalau angin malam itu tembus, jadi rasa dingin tapi mau bagaimana lagi. Terima saja,” ucap Agus yang mengaku anak-anaknya sering protes tapi dia memilih untuk tidak menghiraukan.

Dia menuturkan, pada 2009, sebenarnya dia sudah pernah mengajukan permohonan ke Dinas Sosial Teluk Wondama untuk minta bantuan. Yang diminta bukan dibangunkan rumah baru atau renovasi rumah. Tetapi berupa bahan bangunan seperti tripleks, seng dan paku atau yang dikenal dengan Bahan Bangunan Rumah (BBR).“Saya sudah ketemu Kepala Dinas, dia bilang bisa. Saya kejar terus, tapi sampai sekarang tidak dapat,” ungkap dia.

Tidak ingin menyerah, Agus kembali mengajukan permohonan serupa pada 2011. Namun, hasilnya sama. Agus kembali gigit jari. Namanya tidak masuk dalam daftar orang yang berhak mendapat bantuan.

“Saya ketemu Kepala Dinas tapi saya diputar-putar terus sampai akhirnya mereka bilang saya sudah terlambat,” sambung pria yang mengaku pernah merantau ke Jayapura ini.

Kini, setelah berulang kali tak pernah dihiraukan, Agus sudah tidak mau lagi mengajukan permohonan serupa. Dia memilih untuk bertahan dengan kondisi yang ada sembari mencari pekerjaan yang bisa menjanjikan penghasilan lebih.

Masih tetap sebagai nelayan. Namun sejak dua bulan terakhir, ikan hasil tangkapan dia bersama sejumlah nelayan lain di Kampung Aisandami sudah memiliki pasaran tetap karena ditampung oleh seorang pengepul dari Wasior.

Dengan begitu, Agus berharap, sedikit demi sedikit bisa keluar dari balutan kemiskinan sehingga mampu merenovasi gubuk tenda biru miliknya. Dia pun menyimpan harapan besar pada pemerintahan baru.

“Mudah-mudahan Bapak dorang dua yang baru bisa memperhatikan masyarakat kecil seperti saya ini. Kami di Aisandami memang pilih Bapak Imburi (Bernardus Imburi, Bupati Terpilih) karena kami harap nanti Bapak dia bisa perhatikan kami terutama rumah dan anak-anak sekolah,” pungkas Agus. ***

%d bloggers like this: