Wakil Gubernur Papua Barat, Irene Manibuy

Pemberian Gelar Adat bagi Irene Jangan Dipolitisir

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com- Kepala suku besar Kuri Wamesa, Wiliam Kabiai meminta pemberian gelar adat sebagai perempuan Maybrat bagi Irene Manibuy jangan dipolitisir.

Pernyataan berkaitan dengan pemberitaan gelar adat kepada Irene oleh masyarakat adat Maybrat beberapa waktu lalu yang belakangan dinilai telah melecehkan adat masyarakat setempat.

“Irene Manibuy tidak pergi membawa diri untuk meminta gelar adat. Masyarakat (adat) Maybrat yang mengukuhkan dirinya. Kalau dibilang melecehkan adat, mereka sendiri yang melecehkan,” kata Wiliam Kabiai, pekan lalu.

Gelar adat yang diberikan tersebut, pada saat wakil gubernur Papua Barat ini sedang melaksanakan tugas pemerintahan ke daerah itu. Disana sejumlah tokoh adat Maybrat menganugerahi gelar bakit atau perempuan Maybrat kepada Irene.

“Sebagai kepala suku besar (Kuri Wamesa), saya tidak terima. Mereka yang melecehkan Irene. Saya bisa tuntut secara adat,” ujar Wiliam.

Wiliam juga menegaskan keaslian Irene sebagai orang asli Papua agar tak dipolitisir. Ia menilai, isu orang asli Papua ini sengaja diangkat untuk mematikan karir politik Irene.

Isu soal orang asli Papua mulai berhembus menjelang suksesi Papua Barat tahun 2017 mendatang, ia katakan, merujuk pada nama Irene Manibuy yang disebut-sebut akan meramaikan bursa pemilihan kepala daerah.

“Saya tahu tentang siapa itu orang Kuri Wamesa yang peranakan cina, jawa, belanda dan peranakan lainnya. Irene dikandung oleh noken seorang perempuan Manibuy. Jadi dia adalah darah dari keturuan kuri wamesa,” katanya.

Wiliam menambahkan, akan menuntut secara adat kepada pihak-pihak yang mempersoalkan tentang garis keturunan dan silsilah keluarga Irene Manibuy.

“Biar jelas tanya kepada kami. Jangan bicara di luar karena secara adat saya tidak terima baik. Jangan coba-coba bicara bahwa Irene Manibuy bukan asli Papua. Kami yang peranakan ini tersinggung,” pungkasnya. |RASYID FATAHUDDIN