Rendahnya produk cabai lokal diduga salah satu pemicu inflasi Papua Barat. (Foto. Harianterbit)

Pemicu Inflasi Papua Barat, Produksi Cabai Lokal yang Rendah

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com Rendahnya produksi cabai lokal di Papua Barat dinilai sebagai salah satu faktor pemicu inflasi di Papua Barat.

Kepala Unit Akses Keuangan dan UMKM, Kantor Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat, Jacob Leunufna menyatakan, meskipun Papua Barat memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan sebagian masyarakat di daerah ini berprofesi sebagai petani, namun ketersediaan cabai masih sangat kurang.

Ia menyebutkan, kurangnya ketersediaan pasokan cabai di pasar lokal ini, selain dipengaruhi rendahnya produksi, juga dipengaruhi oleh rantai pemasaran dan distribusi di daerah ini.

Ia mengungkapkan, hasil identifikasi Bank Indonesia terhadap komoditas cabai, diketahui, petani lokal tidak hanya memasarkan cabainya di pasaran lokal, namun pemasarannya bahkan sampai keluar Papua Barat seperti sulawesi dan jawa.

“Kebutuhan cabai maupun bawang di Manokwari dan Papua Barat secara umum masih sangat besar. Produksi kita masih rendah, tapi petani menjualnya keluar daerah, terutama cabai”

Upaya yang dilakukan Bank Indonesia, kata Jacob, untuk meningkakan produksi cabai dan bawang lokal di papua barat, Bank Indonesia terus berupaya melakukan intervensi langsung kepada petani dan stakeholder yang berkaitan, dengan mendorong program pendampingan kepada petani lokal.

Program pendampingan yang diterapkan oleh Bank Indonesia itu, menerapkan sistem klaster, dimana petani dikelompokan berdasarkan wilayah, dan jenis komoditas tanaman pertanian.

Saat ini, program tersebut sudah dilaksanakan di kabupaten manokwari dan kabupaten manokwari selatan. Program ini, masih difokuskan pada petani cabai dan bawang.

“Bawang untuk wilayah Papua Barat, sampai saat ini masih didatangkan dari Makasar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu, harga bawang bahkan mencapai 60 ribu per kilo gram” imbuhnya.

Menurutnya pola bercocok tanam petani di papua barat, belum sepenuhnya fokus pada penerapan sistem pertanian yang terfokus pada pengembangan satu komoditas utama, termasuk cabai dan bawang.

Lahan yang dimiliki petani pada umumnya ditanami lebih dari satu komoditas, sehingga tidak ada fokus komoditas unggulan atau utama yang menjadi basis pertanian milik petani.

Hal itu, menurutnya dipengaruhi oleh kurangnya informasi yang diperoleh petani menyangkut peluang pasar terhadap komoditas tertentu yang menjadi komoditas unggulan atau komoditas utama petani.

Pendampingan akan terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dua komoditas ini, Pihaknya pun berharap, program pendampingan dengan metode klaster yang dilakukan Bank Indonesi dapat menjadi contoh bagi instansi terkait di daerah ini.

Ia menambahkan, tidak hanya dua komoditas pertanian tersebut yang difokuskan oleh Bank Indonesia, pihaknya saat ini tengah mendorong peningkatan produksi buah pala di Kabupaten Fakfak, dan kakao di Manokwari Selatan. Kedua komoditas ini dinilai memiliki peluang pasar yang cukup tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri. | RIZALDY