Sanusi Rahingmas, S.Sos. (Foto : Jubi)

Legislator : Duet Politikus Bukan Calon Ideal

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Tensi politik jelang suksesi Papua Barat pada 2017 mendatang kian meningkat. Sejumlah nama yang digadang-gadangkan sebagai bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah mulai melakukan konsolidasi termasuk menyebarkanluaskan informasi tentang diri mereka kepada publik.

“Saya menilai, Provinsi Papua Barat ini idealnya dipimpin oleh gubernur dan wakil gubernur yang berlatarbelakang birokrat dan politikus. Kalau sama-sama politisi itu sangat susah,” kata politikus asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sanusi Rahaningmas, Jumat (19/2).

Menurut legislator tiga periode ini, daerah ini masih membutuhkan pemimpin yang cakap mengelola birokrasi. Sanusi berujar, penyatuan kalangan birokrasi dengan kalangan lainnya menjadi mutlak pada Pilgub.

“Kalangan birokrasi juga tidak bisa berpasangan dengan birokrasi, harus disandingkan dengan yang lain. Kalau sama-sama politisi pasti kehancuran yang akan terjadi. Sudah ada contoh yang kita lihat,” tuturnya.

Meski demikian, Sanusi mengingatkan kepada para bakal calon untuk tidak mengabaikan syarakt konstitusional, yakni dukungan partai politik.
Sanusi mengemukakan, pasangan bakal calon juga harus melihat situasi dan dinamika terkait peraturan perundang-undangan tentang pencalonan kepala daerah.

Sebab menurut dia DPR – RI mewacanakan pemilihan kepala daerah (gubernur dan wakil gubernur) dipilih oleh DPR. Artinya, konsolidasi dan sosialisasi para bakal calon ini perlu ‘menyentuh’ para wakil rakyat yang ada di DPR Papua Barat (DPRPB).

“Kandidat juga harus pandai-pandai melakukan pendekatan dengan 56 anggota DPR Papua Barat. Kalau aturan itu berubah dan terjadi maka harus mendapatkan simpati. Bukan tiba saat tiba akal,” tukasnya.

Soal pecalonan dari jalur perseorangan (calon independen), Sanusi berpendapat, tetap memiliki peluang di Pilgub, asalkan bakal calon yang memilih jalur tersebut bergerak untuk mendapatkan 30 persen jumlah pemilih sebagai syarat pencalonan.

“Jika mampu menerobos jalur ini, 30 persen suara sudah menjadi milik pasangan calon. Konsolidasi dan sosialisasi boleh jalan tapi penentu adalah partai politik dan simpati rakyat. Ini harus balance (seimbang),” aku Sanusi.

Sanusi menyayangkan manufer politik para bakal calon yang terkesan saling melakukan pembusukan yang semestinya tidak terjadi. Menurut Sanusi, proses pencalonan seharusnya diisi dengan hal-hal yang wajar.

“Terbukti di Kota Sorong, kita melihat masalah ini, saling menjatuhkan satu sama lain. Seharusnya biarkan saja berproses nanti masyarakat yang akan menilai,” katanya menambahkan. |RASYID FATAHUDDIN