Ilustrasi

Kasus Sapi, Saksi: Saya Hanya Terima Rp. 20 Juta dari 500 Juta

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com- Sidang dugaan Korupsi Swasembada Sapi di Dinas Pertanian, Peternakan dan Holtukultura Papua Barat tahun 2012 di ruang sidang Tipikor Papua Barat sempat tegang.

Sidang dengan terdakwa Hari Uhi dan Ruben Rumere yang digelar di ruang sidang Tipikor Papua Barat, Senin (22/2/2016) itu sempat tegang saat saksi Taufik Akbar bersuara lantang meminta penasehat hukum terdakwa Hari Uhi untuk tidak memberikan pertanyaan dengan penekanan-penekanan.

Majelis Hakim yang diketuai Aris S Harsono memukul palu sidang untuk menenangkan situasi. Akhirnya, sidang kembali dilanjutkan. Saksi Taufik Akbar sebagai Ketua Kelompok Ternak Mentari di SP7, dalam persidangan menyebut kalau sebagai ketua kelompok, dia hanya menerima anggaran Rp 20 juta dari Rp 500 juta yang masuk dalam rekening kelompok.

Uang itu kata Taufik diberikan oleh Terpidana Sunarmi selaku bendahara Himpunan Peternak Indonesia (HPI) Papua Barat dan Terpidana Amran Yusup selaku ketua HPI Papua Barat. Sedangkan uang sisa Rp 480 juta diambil oleh Amran Yusup.

Saat diberikan, uang itu disebut kedua Terpidana sebagai tips kepada para ketua kelompok. Sebanyak 7 kelompok lainnya juga dipotong. Namun dia tidak mengetahui berapa anggaran yang dipotong dan diberikan. Selain dipotong, proposal pengajuan kepada dinas juga tidak diketahui oleh saksi. Justru, saksi awalnya mempertanyakan dimana kantor HPI sebenarnya namun tidak diberitahukan oleh Amran pada saat itu.

Diakui saksi, uang Rp 500 juta itu dicairkan sebanyak tiga kali. Pencairan pertama Rp200 juta, pencairan kedua Rp 150 juta dan pencairan terakhir Rp 150 juta. Namun, saksi hanya ke bank untuk menandatangani slip pengambilan sedangkan uangnya diambil oleh Sumarni.

Selain itu jumlah sapi yang dia dapatkan hanya 14 ekor saja padahal sebanyak 34 ekor sapi yang akan diberikan berdasarkan keterangan kedua terpidana. Itupun diakui saksi sapi yang didapatkan adalah sapi anakan yang kurus.

Menurutnya, sapi dengan ukuran seperti itu hanya dijual dengan harga Rp 3 – 4 juta saja, sedangkan dalam dokumen yang dia ketahui, satu ekor sapi dianggarkan sebesar Rp 13 sampai Rp 15 juta.

Saksi juga menyebut sejak awal hingga saat ini, tidak ada sosialisasi ataupun pengawasan yang dilakukan oleh pihak dinas. Bahkan, saksi bersama Sumarni lebih dahulu membuat rekening ketimbang membentuk kelompok.

Terdakwa Hari dalam persidangan memberikan bantahan. Dia menyebut pembentukan kelompok lebih dahulu ketimbang membuat rekening karena rekening akan mengatasnamakan kelompok. Sementara keterangan saksi lainnya tidak dibantah.

Sementara itu, terdakwa Ruben justru membantah kalau pihaknya tidak pernah melaksanakan sosialisasi ataui pertemuan. Justru sebaliknya sosialisasi diakui terdakwa Ruben sudah dilakukan dan ada dokumentasinya. Terdakwa juga menyebut kalau dirinya tidak pernah meminta Amran untuk mengelola anggaran tersebut.

Soal ukuran sapi, terdakwa juga membantah kalau sapi yang dibagikan adalah sapi anakan, melainkan sapi berukuran besar yang siap produksi. Sidang ini oleh majelis hakim, ditunda pekan depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi. |HENDRIK AKBAR

Tinggalkan Balasan