Bupati Demas Paulus Mandacan dan Wakil Bupati Edi Budoyo mengunjungi lokasi banjir di Distrik Prafi kemarin.

Demas dan Edi Kunjungi Warga Korban Banjir

MANOKWARI, Cahayapapua.com—- Bupati Kabupaten Manokwari, Demas Paulus Mandacan didampingi Wakil Bupati Edi Budoyo, Kamis (21/4), meninjau lokasi banjir di Satuan Pemukiman (SP) 3 Lokal Distrik Prafi.      

Bupati dan Wakil Bupati juga bertemu warga sekitar dan melakukan dialog lepas tentang bencana yang tak diduga ini. Dalam dialog itu warga mengatakan jalan penghubung antara Kampung Wasegi dengan bendungan Prafi putus sepanjang kurang lebih 30 meter.

Akibatnya, akses jalan menuju Bendungan Prafi lumpuh total, mengingat badan jalan yang melintas di kawasan tersebut hanyut dibawa arus sungai Aimasi yang deras.

Salah satu warga Wasegi, Klemens Meidodga mengatakan, putusnya sebagian jalan menunju bendungan tersebut disebabkan, hujan deras yang terjadi sejak Senin malam hingga hari Rabu pekan lalu.

Saat itu intensitas hujan yang banyak menyebabkan banjir di hulu sungai yang membawa material kayu dan batu. Ia mengatakan material tersebut kemudian menghantam jalan selebar 6 meter tersebut sehingga hancur tanpa sisa.

Tak hanya itu, banjir juga menyebabkan saluran air bersih menuju kampung Wasegi putus, serta saluran irigasi yang di sekitar sungai tersebut juga rusak dan tertimbun material banjir seperti pepohonan.

“Dikampung Wesegi Pop ada 18 bangunan yang terkena banjir, seperti rumah masyarakat, rumah guru, sekolah, puskesmas pembantu (Pustu) dan rumah ibadah,” jelasnya.

Dikatakan juga, tak hanya Kampung Wesegi Pop yang mendapat imbas banjir tersebut, Kampung Ughebrik yang berbatasan langsung dengan Sungai Aimasi juga terkena luapan air sungai yang masuk ke dalam rumah warga.

Meski menyebabkan sarana penghubungan antara kampung rusak, namun dalam bencana tersebut tidak menelan korban jiwa. “Tidak ada korban karena kami dari pagi hingga malam selalu menjaga sungai ini bergantian. Supaya kalau ada kondisi terbaru kita langsung laporkan ke balai atau pemerintah Manokwari,” tegasnya.

Dirinya berharap, pemerintah dapat segera menangani bencana tersebut, dimana pemerintah diminta untuk dapat membangun kembali sarana penghubung yang rusak dengan struktur bangunan yang lebih baik sehingga saat musim hujan lokasi tersebut tidak terkena musibah banjir dan serta tahan dengan derasnya aliran sungai saat banjir. “Kalau bisa jangan bangun talut dengan kawat-kawat bronjong tapi kalau bisa langsung dicor keras, sehingga kuat dan bisa tahan banjir,” harapnya.

Bupati mengatakan, langkah utama yang akan dilakukan pemerintah dalam menangani banjir tersebut adalah berkoordinasi bersama instansi terkait seperti BPBD Kabupaten Manokwari, Dinas Pekerjaan Umum Manokwari serta Balai Sumber Daya Air.

“Jadi nanti yang tangani tuh balai. Mereka sudah datang dan lihat, dan hari ini (kemarin) juga mereka langsung kerahkan alat untuk mengerjaakan bencana ini sehingga tidak akan dampaknya nantinya tidak meluas lagi,”kata Bupati.

Dikatakan Bupati, terkait dengan kerusakan beberapa irigasi dan saluran air bersih juga akan dikordinaskan bersama balai air melalui bidangnya masing-masing, mengingat hal tersebut juga berdampak pada masyarakat terutama para petani.

Bupati juga mengatakan, meski anggaran di Kabupaten Manokwari tidak memadai, namun pihaknya akan berupaya untuk mengakali penganggarannya untuk melakukan pekerjaan perbaikan terlebih dahulu.

“Sekarang ini (penggunaan anggaran) diperketat, tidak seperti dulu yang ada anggaran pemeliharannya dan sebagainya. Sekarang tidak bisa karena semua harus jelas. Jadi salah satu caranya paling kita suruh rekanan mengerjakan dulu, nanti dianggaran perubahan baru kita bayar,” jelasnya.

Namun bencana yang terjadi tersebut dikatakan Bupati akan ditangani oleh Balai Sumber Daya Air melalui bidang-bidangnya, yang mempunyai tugas dan tangungjawab masing-masing, baik dalam menangani bendungan, irigasi dan saluran air bersih.

Sesuai pantauan, tak hanya badan jalan yang putus, beberapa medan jalan di lokasi tersebut juga hancur akibat terkikis aliran air yang deras. Selain itu beberapa pola air di sungai tersebut juga mulai berubah alirannya.

Beberapa petugas yang hendak mengukur panjang ruas jalan yang rusak juga kewalahan untuk melakukan pengukuran, pasalnya arus sungai yang deras dan disertai beberapa material batu menyebabkan para petugas tidak bisa melanjutkan pengukuran. (ACS)

 

Tinggalkan Balasan