Lumpur yang masih tersisa akibat longsor di Pegunungan Arfak. Pihak terkait menyatakan 250 jiwa pada 11 kampung di Pegaf masih menempati tenda-tenda darurat dan rumah ibadah pasca longsor beberapa hari lalu.

Ratusan Warga Hink Masih Menempati Tenda Darurat

MANOKWARI, Cahayapapua.com—- Sebanyak 50 kepala keluarga atau sekiranya 250 jiwa korban banjir dan longsor di 11 kampung di Distrik Hink, Kabupaten Pegunungan Arfak hingga kini, masih menempati tenda-tenda darurat dan sejumlah rumah ibadah.

“Warga dari 11 kampung masih di tempatkan di tenda darurat yang didirikan di ibu kota distrik Hink di Pnebut,” kata Kepala BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir, Jumat, (22/4).

Kata Derek, tim assement (BPBD) telah melaporkan jumlah kerusakan serta kerugian materi yang dialami warga di 9 Kampung. “Dua kampung yakni, Cangui dan Dementi masih dalam pendataan. Diperkirakan ada sekiranya 100 kepala keluarga,” ujar Derek.

Kerugian materi meliputi, 200 unit rumah rusak berat, 100 unit rumah rusak ringan. Sarana umum berupa tiga unit PLTMH, 19 jembatan kayu, 7 gorong-gorong hanyut.

Jalan sepanjang lebih kurang 50 km rusak berat. Jalan ini menghubungkan 11 kampung di daerah tersebut. Ada pula satu unit Puskemas pembantu serta tiga unit rumah guru rusak akibat bencana tersebut.

“Hewan ternak warga berupa babi sebanyak 700 ekor dan sapi sebanyak 500 ekor dinyatakan hilang. Obat-obatan, air bersih, lauk pauk, dan wc umum menjadi kebutuhan mendesak,”tuturnya.

Dia mengatakan, tiga korban meninggal telah teridentifikasi yakni, Octovianus Nuham (13), Efrinus Saroy (20), dan Bani Nuham (19). Sementara korban yang masih dalam pencarian adalah, Apolos Mandacan (13) dan Octovina Saroy (23).

“Waktu pencarian korban hilang akan dilakukan hingga 14 kedepan, terhitung sejak saat ini. kita sudah koordinasi dengan tim SAR terkait dukungan peralatan,” ujarnya lagi.

Diakuinya, saat ini upaya pencarian korban dihentikan sementara, karena pemerintah lagi mengupayakan penyelesaian masalah pemalangan jalan yang sempat terjadi di Minyabouw.

“Pemalangan jalan tersebut juga ikut menghambat upaya kami. Pekan depan, kita akan optimalkan lagi upaya pencarian,” tandasnya.

Derek menambahkan, bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pegunungan Arfak masuk status siaga. Ia mengatakan, RPJMD di kabupaten Pegunungan Arfak dan seluruh kabupaten di Papua Barat perlu mengarah kepada pengurangan resiko bencana.

“Khusus untuk Pengunungan Arfak, kami nyatakan status Siaga. Karena potensi bencana di daerah ini sangat tinggi,” kata dia.

Disisi lain, Derek mengakui belum mendapatkan laporan awal terkait peristiwa banjir yang terjadi di wilayah kota Manokwari dan daerah dataran Prafi serta Sidey.

“Kita lambat peroleh informasi awal sehingga sulit menyampaikan peristiwa yang terjadi ke BNPB. BPBD kabupaten belum pernah melaporkan data yang cepat,” ujarnya.

Derek menegaskan, harusnya laporan disampaikan begitu peristiwa terjadi. Baik secara hirarki pemerintahanan maupun langsung kepada dari BPBD di kabupaten kepada BPBD provinsi.

“Khusus di Kabupaten Manokwari, ini perlu dimaknai karena, saya sering dihubungi langsung oleh masyarakat dari kampung. Ini kan menyalahi hirarki organisasi,” pungkasnya. (ALF)

Tinggalkan Balasan