Obyek Wisata Raja Ampat. (Liputan6.com)

Harga Berwisata ke Raja Ampat Terlalu Mahal

MANOKWARI, Cahayapapua.com—–  Ketua Badan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Iskandar Z Hartawi menilai penerapan tarif wisata ke Raja Ampat, Papua Barat terlalu mahal.

“Obyek Pariwisata di Raja Ampat sangat menakjubkan, dan itu sebagai icon Provinsi Papua Barat yang harus dijaga. Namun, biaya untuk bisa menikmati pariwisata di situ terlalu tinggi,” kata Iskandar di Manokwari, Rabu.

Dia menyebutkan, biaya berwisata di Raja Ampat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Bali. Menurutnya, penerapan harga yang terlalu berlebihan akan bedampak besar terhadap jumlah pengunjung ke daerah itu.

“Saya sudah pernah ke Raja Ampat. Ketika orang ke Bali, dia berharap suatu saat dia bisa datang kembali, tapi kalau ke Raja Ampat dia akan berfikir dua kali lipat, karena terlalu mahal,” ujarnya.

Selain mahal, kata dia, banyak hal yang harus dibenahi terutama menyangkut pelayanan. Dengan demikian, setiap pengunjung yang datang merasa nyaman dan memiliki rasa keinginan yang kuat untuk datang kembali.

Disisi lain, lanjutnya, jika pelayanan tuan rumah baik dan penerapan harga yang terjangkau. Setiap pengunjung akan berusaha mengajak saudara dan rekan-rekanya untuk berlibur ke Raja Ampat.

“Pelayanan masyarakat Bali begitu bagus karena mereka sangat menghargai pariwisata. Mereka bisa melayani tamu sebaik mungkin, hal yang sama harus diterapkan di Raja Ampat,” ujarnya menambahkan.

Dia mengungkapkan, obyek pariwisata bahari di Raja Ampat sudah terkenal seluruh negara di dunia. Ia menyarankan agar konsep pengelolaan pariwisata di daerah itu mampu menarik pengunjung untuk terus datang.

Ia pun berharap, tarif wisata ke lokasi tersebut diturunkan agar lebih banyak pengunjung yang datang. Ia yakin jika hal itu dilakukan, pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah akan lebih besar karena jumlah pengunjug lebih banyak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat Edi Sumarwanto, pada wawancara sebelumnya mengatakan, pengelolaan pariwisata Raja Ampat tidak berorientasi pada jumlah pengunjung.

Dia menyebutkan, jika pengunjung terlalu banyak keberadan mereka sulit terkontrol. Jika hal itu terjadi, ia kuatir dapat merusak esensi keindahan alam yang selama ini menjadi nilai jual pariwisata di daerah tersebut.

“Bukan jumlah pengunjung yang yang menjadi tujuan kami. Biarkan pengunjung sedikit, asalkan alam tetap terjaga,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sesuai laporan Dinas Pariwisata Raja Ampat jumlah pengunjung di Raja Ampat pada tahun 2015 lalu sudah mencapai 40.000 orang. 40 persen diantaranya adalah wisatawan mancanegara.

Menurutnya, pengelolaan pariwisata di daerah itu berbasis masyarakat dan lingkungan. Hal ini dilakukan agar obyek pariwisata tetap terjaga dan dapat dinikmati sepanjang masa. (ACS)

 

Tinggalkan Balasan