Apel aparat gabungan aparat keamaman sebelum pengamanan di Kabupaten Teluk Bintuni beberapa jam menjelang pembacaan keputusan sidang sengketa Pilkada Teluk Bintuni oleh Mahkamah Konstisusi, Kamis (28/4).

Teluk Bintuni Kondusif

BINTUNI, Cahayapapua.com—– Kondisi keamanan kabupaten Teluk Bintuni dilaporkan tetap kondusif setelah Mahkamah Kontisusi menetapkan pasangan Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop sebagai kepala daerah terpilih untuk memimpin daerah penghasil Migas tersebut selama 5 tahun kedepan.

Dalam penelusuran lapangan, aktivitas warga berlangsung seperti biasa termasuk di pasar juga jalan – jalan utama, perkantoran, pertokoan termasuk aktivitas sekolah dan pada daerah yang diidentifikasi sebagai lokasi yang kemungkinan akan bergejolak.

Meski begitu sampai saat ini pihak keamanan masih menetapkan kabupaten Teluk Bintuni dalam status siaga satu ditandai dengan kehadiran aparat kepolisian di titik-titik yang diidentifikasi sebagai lokasi rawan.

Lokasi dimaksud seperti di Km 6, Km 2, posko tim pemenangan Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop, Polsek Kota, Kantor Panwas, Pasar Sentral, Bank Papua, perempatan Kampung Lama, Kantor KPU dan Polres.

Selain itu, beberapa anggota TNI juga terlihat ikut berjaga pada titik-titik tersebut berbaur dengan aparat kepolisian. Aparat Kepolisian juga melakukan patroli keliling menggunakan tiga unit mobil patroli secara rutin.

Sementara itu sejumlah warga terlihat memenuhi beberapa titik di kabupaten itu untuk merayakan kemenangan Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop. Euforia itu diluapkan dengan menggelar pesta kembang api dan tarian adat. Posko tim pemenangan Petrus Kasihiuw juga terlihat ramai.

Kepala Satuan Brimob Polda Papua Barat AKBP Desman S. Tarigan yang memimpin pengamanan di Bintuni mengatakan pihaknya telah menempatkan aparat keamanan di sejumlah titik yang dianggap rawan.

Kepolisian juga menyempatkan diri bertemu simpatisan tiap pendukung kandidat bupati, tokoh masyarakat dan tokoh agama dan kelompok warga dan mengimbau agar tidak menggelar pesta berlebihan termasuk pawai, juga agar mentaati aturan hukum yang berlaku.

“Kita mengatisipasi dan menghimbau masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu yang merugikan. Biar MK yang memutuskan. Apapun keputusan harus bisa diterima dengan lapang dada. Serta salurkan aspirasi dan komplain sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku,” kata Desman soal upaya pihak kepolisian dalam mengamankan daerah itu.

Desman menyatakan juga telah mengimbau warga untuk tidak berkumpul dalam jumlah berlebihan atau menggelar pesta miras dan sebagainya yang dapat memicu situasi menjadi tidak kondusif.

“Kita akan tangkap dan amankan serta bubarkan jika ditemukan. Kita tegas dalam hal ini kepada orang-orang yang akan berusaha bikin kacau di kota ini,” ujarnya.

“Kami imbau masyarakat tidak melakukan tindakan anarkis. Pengamanan ini dimulai hari ini dan akan terus dilaksankan sampai ada sidang pleno penetapan,” tambahnya.

 

Keputusan MK

Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop dinyatakan sebagai bupati dan wakil bupati terpilih Kabupaten Teluk Bintuni periode 2016-2021 setelah Mahkamah Konstisusi membacakan amar putusan sengketa Pilkada Teluk Bintuni di Jakarta, Kamis (28/4).

Dalam amar putusan, Majelis Mahkamah Kontisusi menyatakan mengabulkan permohonan pemohon Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop untuk sebagian dan membatalkan surat keputusan Komisi Pemilihan Umum Teluk Bintuni, termohon, tentang penetapan rekapitulasi hasil perhitungan perolehan suara dan hasil pemilihan bupati dan wakil bupati Teluk Bintuni tahun 2015 tertanggal 18 Desember 2015.

MK juga menyatakan membatalkan hasil perolehan suara seluruh pasangan kandidat pada pemungutan suara ulang di TPS 1 Moyeba, Distrik Moskona Utara yang digelar beberapa pekan lalu.

Dalam amar putusan MK juga menyatakan mengembalikan suara sah pasangan nomor urut 1 dan 2 kepada pasangan nomor urut 3 di TPS Inofina, Mosum serta Meristim. Selebihnya MK memerintahkan KPU Teluk Bintuni melaksanakan amar putusan ini.

Secara terpisah koordinator tim kuasa hukum Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop, Taufiq Basari mengatakan, “Mahkamah Konstitusi telah mengembalikan suara yang menjadi hak pasangan Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop. Jika digabungkan dengan suara di distrik lain, maka dapat dipastikan pemenangnya adalah pasangan Petrus Kasihiuw dan Matret Kokop.”

Sengketa Pilkada Teluk Bintuni berlangsung hampir 5 bulan setelah Pilkada digelar pada 15 Desember 2015 lalu yang diikuti pasangan Agustinus Manibuy – Rahman Urbon, nomor urut 1, Petrus Kasihiuw – Matret Kokop (2) dan Daniel Osmorom – Yohanes Manibuy (3).

Usai keputusan MK keluar, perolehan suara sah Pilkada Teluk Bintuni juga berubah dengan perolehan sebagai berikut: pasangan nomor urut 1 mendapat 7623 suara, pasangan nomor dua 17.160 suara dan nomor urut 3 memperoleh 16.418 suara.

 

Harapan warga

Sementara itu sejumlah warga Teluk Bintuni ditemui Cahaya Papua sebelum putusan MK dibacakan mengatakan, akan menerima dan mendukung siapapun bupati dan wakil bupati terpilih Teluk Bintuni 5 tahun mendatang.

“Siapapun bupati terpilih nantinya itu kami semua punya. Kami tidak mendukung siapapun. Entah pasangan no urut 2 atau no urut 3 tapi yang jelas siapapun bupatinya kami harap bisa membangun Bintuni dengan baik,” kata seorang penjual sayur di pasar Sentral Bintuni, Yosep.

Sebagai warga masyarakat yang merindukan pemimpin devinitif ia juga sempat menyayangkan lamanya waktu penetapan pasca pemilihan suara ulang di Moyeba, namun dengan keputusan ini akhirnya ia lega karena Bintuni sudah memiliki pemimpin devinitif 5 tahun kedepan. (ART/NSR)

 

Tinggalkan Balasan