Kepala suku Hatam distrik hingk Yordan Saroy

Ini Dampak Bencana Banjir Bandang dan Longsor

ULLONG, Cahayapapua.com—– Kepala Suku Hatam Distrik Hingk, Yordan Saroy mengatakan tidak hanya korban jiwa, harta benda warga di 11 kampung di distrik Hingk, ludes akibat bencana alam banjir bandang disertai longsor.

Khusus di kampung Leihak, Jurai Yordan, 15 rumah hanyut akibat meluapnya kali sop, jaringan air bersih di 20 titik atau sepanjang 2 km pemukiman warga rusak total, menara komunikasi satu unit rusak, begitupun kios dan 20 MCK.

Tak hanya itu, empat jembatan terputus, kebun warga seluas 20 hektar rusak, satu unit mesin genset hingga binatang ternak seperti babi dan ayam, semua terbawa arus banjir dan longsor. “Warga butuh rumah layak huni dan perbaikan menyeluruh, karena sekarang tidak punya rumah dan kebun untuk mencari nafkah,” kata Yordan Saroy.

Sementara itu Tim Assesment Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat mencatat, sebanyak 1.200 ekor hewan ternak milik warga lenyap pada bencana longsor dan banjir di Pegaf, Minggu (17/4/2016) lalu.

Kepala BPBD Papua Barat Derek Ampnir di Manokwari, , merinci hewan ternak tersebut berupa babi sebanyak 700 ekor dan sapi 500 ekor.

Ia menyebutkan, saat ini tim  BPBD masih mendata seluruh kerusakan dan kerugian materi yang terjadi akibat bencana tersebut. Pendataan sudah dilakukan terhadap sembilan kampung.

“Tersisa dua kampung, yakni Cangui dan Dementi yang pendataanya belum selesai. Diperkirakan di dua kampung tersebut ada sekitar 100 kepala keluarga,” tambah dia.

Dari data sementara, lanjutnya, 200 unit rumah mengalami rusak berat, 100 unit rumah rusak ringan. Longsor dan banjir itu pun merusak tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

“19 jembatan kayu dan gorong-gorong hanyut terbawa arus, satu gedung Puskesmas dan tiga rumah guru rusak berat. Jalan penghubung 11 Kampung sepanjang 50 kilometer rusak berat,”kata dia lagi.

Ia menyebutkan, obat-obatan, air bersih, lauk pauk, serta WC umum menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi warga yang saat ini masih berada dilokasi pengungsian.

Ia mengimbau, Pemkab Pegaf menyiapkan program pengurangan resiko bencana pada Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Begitupun kabupaten/kota lain di Papua Barat. Ini sangat penting, karena sebagian besar wilayah di Papua Barat ini adalah daerah rawan bencana,” ujarnya. (YOS)

Tinggalkan Balasan