Bupati Bernadus Imburi Bersama Istri dan Masyarakat Sombokoro Serta Pejabat Pemda dan Aktivis WWF Berfoto bersama Sebelum Pemasangan Papan Informasi Sawora di Kampung Sombokoro

Sawora, Cara Orang Sombokoro Menjaga Sumber Daya Laut

Laut merupakan sumber utama kehidupan masyarakat kampung Sombokoro, Distrik Windesi. Bagi warga di pulau kecil ini, laut tidak sekedar tempat mereka mencari makan, tetapi juga harta karun  yang menjamin  masa depan yang lebih baik bagi anak cucu mereka.
Oleh : Zack Tonu Bala.


I
nilah yang mendorong warga Sombokoro menetapkan komitmen bersama melindungi sumber daya laut agar tidak sampai rusak apalagi punah oleh keserakahan manusia. Komitmen itu diwujudkan lewat Sawora.

Sawora atau di wilayah lain dikenal dengan Sasi bera sal dari bahasa asli suku Wamesa, Kabupaten Teluk Wondama yang berarti sumpah. Sumpah itu dilakukan secara adat maupun agama untuk tidak mengambil hasil bumi juga lainnya pada suatu tempat atau kawasan tertentu dalam jangka waktu yang telah disepakati.

Selama kurun waktu yang telah disepakati, warga setempat maupun orang luar dilarang mengambil semua hasil yang ada dalam kawasan tersebut. Pada jaman dulu, Sawora biasanya dilakukan untuk melindungi wilayah milik warga seperti kebun dari aksi pencurian.

Sabtu (30/4/2016), masyarakat kampung Sombokoro kembali menggelar tradisi Sawora yang sudah lama ditinggalkan. Lewat pendampingan dari WWF Indonesia region Teluk Wondama, warga Sombokoro sepakat untuk melakukan sawora menutup kawasan laut di sekitar kampung mereka seluas 345,203 hektar.

Seluruh warga setempat yang terdiri atas 52 KK dan 263 jiwa dilarang memancing ikan maupun mengambil biota laut lainnya dikawasan tersebut. Larangan yang sama juga berlaku bagi orang luar.

Prosesi Sawora ini dibuka oleh Bupati Bernadus Imburi dan dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat Sombokoro.

Prosesi Sawora diawali dengan doa penyerahan  yang dipimpin Ketua Klasis Gereja Pentakosta di Papua Teluk Wondama Pendeta Beni Sanoi. Doa dilakukan di atas perahu yang telah dihias pada kawasan laut yang akan ditutup, masing-masing di tanjung Kornamis dan tanjung Ronawadu.

Selanjutnya dilakukan pelepasan biota laut yang banyak terdapat di kawasan setempat yakni udang lobster oleh Bupati dan Pendeta Sanoi. ada

Adapun waktu penutupan Sawora berlaku dari 30 April 2016 dan akan dibuka pada 30 April 2017. Jangka waktu pengambilan biota saat buka Sawora selama 3 minggu dan setelah itu harus ditutup kembali.

Pada saat pembukaan Sawora nanti, dilarang menggunakan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom, kompresor, potas, akar bore dan peralatan lain yang bisa merusak terumbuh karang dan biota laut lainnya.

Warga juga dilarang mengambil biota laut yang masih kecil. Yang boleh diambil hanya yang sudah berukuran sedang dan besar. Demikian pula apabila ada biota yang dalam keadaan memijah atau siap bertelur, biota itu harus dilepas kembali.

“Ini untuk kepentingan anak cucu kami jadi bukan untuk kami masyarakat saja. Banyak orang luar datang ambil biota laut dan sumber daya laut kami tapi kami tidak bisa larang,” jelas Kepala Kampung Sombokoro Ismail Munuari saat memberi sambutan.

Awalnya, kata Munuari, masyarakat setempat sempat menolak saran WWF untuk melakukan sawora karena belum memahami pentingnya melakukan kegiatan tersebut. Namun setelah mengetahui manfaat jangka panjang sawora, masyarakat Sombokoro akhirnya sepakat menghidupkan kembali tradisi masa lampau itu.

“Pada bulan Maret kami buat rencana untuk tutup sawora. Kami harus buat Sawora agar itu bisa terlindungi dan terjaga agar bisa bertahan untuk kami dan keluarga,”ucap dia.

Selain untuk menjaga keberlangsungan sumber daya laut, Sawora juga mengusung misi jangka pendek yakni mendukung pendanaan untuk peresmian gereja di kampung Sombokoro.

Pembagian dari total pendapatan yang diperoleh setelah Sawora dibuka adalah 50 prosen untuk gereja, 10 prosen untuk kampung dan 40 prosen untuk masyarakat sendiri.


Konservasi Lokal

Community Outreach Coordinator WWF Region Teluk Wondama Fero Manohas mengungkapkan dari survey yang dilakukan pihaknya, kawasan yang ditelah dilakukan Sawora menyimpan potensi ekonomi yang cukup tinggi karena dihuni biota laut yang memiliki nilai jual tinggi seperti udang lobster maupun teripang.

“Setiap satu meter ada tripang atau lobster,” kata Fero. Diharapkan dengan Sawora, masyarakat setempat bisa mendapat penghasilan yang memadai untuk menopang ekonomi keluarga.

Namun terlepas dari manfaat secara ekonomi, yang terpenting, lanjut Fero, Sawora bisa menjadi tradisi yang terus hidup demi menjaga kelestarian laut beserta isinya di Teluk Wondama. “Harapan kami Sawora bisa menjadi konservasi lokal,” ujar aktivis lingkungan ini.

Bupati Bernadus Imburi menyambut baik adanya Sawora. Dia pun mengingatkan masyarakat setempat agar tidak melanggar sumpah yang telah diikrarkan bersama.

“Ini sumpah kita dengan Tuhan. Jadi jangan main-main dengan sumpah. Jangan kamu ganggu tempat yang sudah dilarang itu lagi,” kata Imburi dalam sambutannya.

Orang nomor satu Wondama ini juga memperingatkan warga Sombokoro agar tidak menggunakan alat tangkap yang merusak saat mencari ikan maupun biota lainnya.

Kebiasaan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti bom, pukat harimau dan juga kompresor yang banyak digunakan nelayan selama ini telah berdampak besar pada kerusakan ekosistem laut.

“Dulu di tempat ini kita buang ikan sambil kita bisa lihat ikan  makan umpan. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Saya mau kasih ingat bapak ibu semua, jangan sampai anak cucu kita mereka harus dayung jauh sekali baru dapat ikan,” pesan Imburi yang pada kesempatan itu didampingi istrinya Merlin Lekito.

Untuk memastikan kawasan yang telah ditutup tidak lagi bebas dari aktivitas nelayan baik orang dalam maupun dari luar, masyarakat Sombokoro juga telah membentuk kelompok yang diberi nama Sewiri yang bertugas melakukan patrol pengawasan.

Orang Sombokoro percaya dengan Sawora, wilayah laut yang menjadi tempat  mereka mengantungkan hidup akan tetap terjaga dan lestari, hari ini dan seterusnya. (***)

Tinggalkan Balasan