Kasi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kaimana Hamonangan Manurung. | CAHAYAPAPUA.com | Isabela Wisang

2 Depot Air Minum di Kaimana Tutup

KAIMANA,CAHAYAPAPUA.com—- Sebanyak 22 depot air minum isi ulang dari 24 depot yang terdaftar pada Dinas Kesehatan Kota Kaimana layak beroperasi. Hasil penelitian laboratorium terhadap air isi ulang yang dijual pada 22 depot, dinyatakan steril dan layak dikonsumsi.

Sementara dua depot, masing-masing ‘Depot O’ di Jalan Cenderawasih dan ‘Depot B’ di Jalan Baru Kampung Trikora, untuk sementara waktu ditutup, karena alat pengolah air mengalami kerusakan.

Demikian penjelasan Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kaimana, Hamonangan Manurung soal keberadaan depot air minum isi ulang yang ada di Kota Kaimana.

Berbicara di Aula GPI Rehobot, Hamonangan Manurung mengatakan, dari total 24 depot air minum isi ulang yang ada di Kota Kaimana, 22 diantaranya dinyatakan layak beroperasi melayani konsumen.

Sedangkan dua lainnya, pada saat dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel air untuk diteliti di Laboratorium BPKL Ambon, mengalami kerusakan pada beberapa perangkat. “Karena alatnya rusak, mereka minta supaya jangan dulu diperiksa karena hasilnya pasti jelek. Sehingga dua depot ini untuk sementara ditutup dan belum boleh beroperasi. Kalau 22 depot, dari hasil pemeriksaan laboratorium BPKL Indonesia Timur wilayah Ambon dan Papua di Ambon, air yang mereka jual memenuhi standar dan layak dikonsumsi,” jelas Manurung yang menggelar pemeriksaan depot pada 13 Januari 2015 lalu.

Ditanya apakah air minum isi ulang yang diangkut dari tempat jauh menggunakan bantuan mobil tangki layak atau tidak dikonsumsi berdasarkan aturan kesehatan, Kasi PL ini menegaskan, itu layak karena sesuai aturan, air yang dijual pada depot penjualan air minum isi ulang, harus berasal dari tangki dan tidak boleh menggunakan air kran atau sumur. Artinya air depot harus berasal dari mata air, yang diangkut menggunakan mobil tangki.

“Depot itu sesuai aturan harus menggunakan tangki. Tidak boleh dipakai langsung dari kran, air sumur juga tidak boleh. Selain tidak memenuhi standar kesehatan, kalau disedot menggunakan mesin, bisa mengganggu konsumen lainnya. Dari sisi kesehatan, air dari tangki itu layak. Namun layak dan tidaknya untuk dikonsumsi, setelah proses pengolahan di depot. Karena hasil pemeriksaan air baku atau air mentah dari mata air kali sukun milik PDAM, sebenarnya tidak memenuhi syarat. Tetapi hasil olahan depotnya yang kemudian memenuhi syarat untuk dikonsumsi, berdasarkan uji laboratorium,” jelas Manurung disela acara pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinkes.

Disinggung syarat kesehatan yang harus dipenuhi pemilik depot air minum sebelum mendistribusikan air kepada konsumen, Manurung mengatakan, yang paling utama adalah kebersihan depot, kemudian air mentah atau air baku yang digunakan harus berasal dari PAM dan setiap depot wajib menjalani pemeriksaan kebersihan setiap tiga bulan sekali serta pemeriksaan terhadap bakteriologi kimia setiap enam bulan sekali. Tanpa rekomendasi hasil uji laboratorium, pemilik depot tidak diijinkan melayani konsumen. Depot diminta  tidak menitip air gallon pada kios, apalagi dalam jangka waktu lama karena berakibat pada munculnya ganggang atau lumut.

“Yang namanya air isi ulang itu, pembeli datang langsung melakukan pengisian dan bawa pulang. Kenyataan di Kaimaan, banyak yang titip jual di warung atau kios. Takutnya kalau dititip di kios, airnya yang sudah terkena sinar matahari itu diendap berhari-hari, lalu berlumut dan tanpa periksa terlebih dahulu, masyarakat beli dan konsumsi. Kalau terjadi seperti ini, kami minta masyarakat lapor ke dinas supaya kami bisa ambil tindakan tegas. Harapan kami, masyarakat harus teliti. Usahakan tidak membeli air gallon yang dititip di kios, perhatikan juga wadahnya, kalau bocor jangan ambil,” ingatnya. |ISABELA WISANG

Tinggalkan Balasan