Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Papua Barat Henri N. Tanor

2015, Perekonomian Papua Barat Tetap Prospektif

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com— Bank Indonesia memprediksi Perekonomian Papua Barat tetap prospektif pada tahun ini. Meski demikian, Pemerintah Daerah, perbankan, maupun pengusaha di Papua Barat disarankan untuk tetap bersinergi.

Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Papua Barat Henri N. Tanor menyarankan 6 wujud sinergi dan rekomendasi kebijakan yang penting dilakukan. Di antaranya, pertama, menjaga konsistensi kebijakan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, disertai pembangunan dan penguatan infrastruktur dasar di bidang energi, transportasi, dan komunikasi.

“Hal ini akan memberi nilai tambah kepada perekonomian yang semakin besar dalam jangka menengah panjang,” katanya.

Kedua, kebijakan hilirisasi mesti diiringi dengan penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas, terampil, dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Ketiga, penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang berdaya saing, diikuti dengan peningkatan produktivitas kerja.

Keempat, peningkatan pengawasan proses Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP), diiringi dengan pemberian izin usaha di sektor industri yang semakin mudah dan cepat.

Kelima, turut mengimplementasikan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) untuk meningkatkan kualitas fiscal.

Peralihan pola pembayaran tunai menjadi nontunai dapat diterapkan pada sektor pemerintah seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan masyarakat akan pentingnya birokrasi yang efisien dan transparan.

“Pola pembayaran nontunai diantaranya dapat diimplementasikan pada pembayaran pajak daerah serta penyaluran bantuan sosial pemerintah (government to people),” jelasnya.

Keenam,peningkatan promosi produk industri Papua Barat melalui berbagai jalur agar semakin dikenal dunia internasional.

Selain itu, Pemerintah Daerah juga dapat memperkenalkan dan mempromosikan tempat-tempat wisata di Papua barat salah satunya dengan mengadakan event pariwisata yang diselenggarakan secara rutin.

Dalam perspektif Bank Indonesia, perekonomianPapua Barat diperkirakan kembali meningkat sebesar 7,9% sampai 8,3%; didukung peningkatan pertumbuhan, investasi dan ekspor seiring dengan peningkatan produksi industri gas, serta masih terjaganya konsumsi pada level yang tinggi.

“Walaupun tekanan harga akhir tahun 2014 mencapai 6,55% karena adanya kenaikan harga BBM bersubsidi, namun ketersediaan bahan makanan dinilai dapat mencukupi dan relatif minimal harga yang ditentukan pemerintah. Sehingga untuk inflasi Papua Barat tahun 2015 akan kembali pada kisaran5,0% – 5,5%,” kata Hendi. |RIZALDY

 

Tinggalkan Balasan