Bantuan bangunan pondok baca di wilayah Amban, Manokwari, Papua Barat. | CAHAYAPAPUA.com | Adith Setyawan

4 Pondok Baca Dibangun di Manokwari

MANOKWARI– Badan Kearsipan dan Dokumentasi Papua Barat, Rabu (14/1/2015), memberikan bantuan berupa pondok baca kepada beberapa pihak, diantaranya Gereja Petrus Amban, STT Eriksson Triit, serta dua pondok baca yang didirikan di Distrik Masni dan Sidey.

Penyerahan dilakukan langsung oleh Kepala Badan Kantor Kearsipan dan Dokumentasi Papua Barat, Bernadus Erari, yang ditandai dengan serah terima dan penandatangan serta diberikan juga tiga rak buku dengan puluhan buku baik ilmu pengetahuan, agama ekonomi dan beberapa jenis buku lain.

Dalam sambutan Kepala Badan Kearsipan dan Dokumentasi Papua Barat, Bernadus Erari mengharapkan setelah serah terima pondok baca ini maka pihak-pihak yang menerimanya dapat menyerahkan nama pengelola pondok baca, agar ke depan dapat mengikuti Bimtek Pengelolaan Perpustakaan Daerah.

“Selain pondok baca kedepan kami akan lengkapi lagi dengan buku-buku lain serta saran penungjangnya jadi bantuan pondok baca ini akan dilakukan secara berkesinambungan,” jelasnya.

Bernandus juga mengharapkan, dengan hadirnya pondok-pondok baca ini para penulis lokal yang telah menerbitkan bukunya dapat dibaca ditampung dan dibaca oleh para pembaca baik dari Papua maupun pembaca dari luar Papua.

“Buku-buku lokal akan diakomodir sehingga dapat dibaca orang banyak di luar Papua, salah satunya akan kita perbanyak di Jakarta dan didaftarkan di katalog pusat,” harapnya.

Sementara itu salah satu penerima pondok baca dan juga Ketua STT Eriksson Tritt Sowi, Pendeta Goerge Rumbekwan, dalam sambutannya mengatakan dari empat program studi yang dimiliki oleh STT Eriksson Tritt, salah satunya yang ditentukan oleh pemerintah yakni wajib memiliki 600 buku pondok baca. Ini berada di halaman belakang gedung STT Eriksson Tritt Sowi, berukuran 5×10 meter.

Ketua STT Eriksson Tritt Sowi, Pendeta Goerge Rumbekwan mengatakan STT Eriksson Tritt Sowi memiliki empat program studi dengan standar yang ditentukan pemerintah yaitu satu program studi harus memiliki 600 ratus buku, sehingga total dua ribu diperlukan oleh STT Eriksson Tritt.

George menambahkan, selain dua ribu buku yang dibutuhkan oleh empat program studi, ruang perpustakaan yang dimilik oleh kampus sudah mulai rusak akibat gempa beberapa tahun lalu. Dengan kehadiran pondok baca ini dapat membantu mahasiswa dan juga anak-anak yang berada di sekitar kampus.

“Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa perpustakaan merupakan gudang ilmu pengetahuan. Untuk itu pondok baca ini akan kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai kegunaannya,” tuntasnya. |ADIT SETYAWAN

Tinggalkan Balasan