Direktur Center for Endangered Languages Documentation (CELD) Universitas Papua (Unipa) Yusuf Sawaki. Safwan Ashari/Cahaya Papua

5 bahasa daerah dan 1 suku terancam punah

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Papua Barat terancam kehilangan aset budayanya menyusul status sejumlah bahasa daerah yang masuk dalam kategori terancam punah. Dari sekitar 60-an bahasa daerah di provinsi ini, setidaknya 5 diantaranya dalam kategori terancam punah; diantaranya Bahasa Tandia, Dusner, Doreri, Mansim dan bahasa Wowiai.

Direktur Center for Endangered Languages Documentation (CELD) Universitas Papua (Unipa) Yusuf Sawaki, Sabtu (3/3), menjelaskan bahwa penutur bahasa Tandia di Teluk Wondama hanya 8 orang yang berusia di atas 60 tahun. Para penutur pun tak lancar dan hanya bisa menyebut nama benda.

“Mereka tidak bisa untuk merangkai kata dalam bentuk kosakata. Hal serupa juga terjadi untuk bahasa Dusner, Doreri, Mansim dan Wawiai,” jelasnya kepada Cahaya Papua.

Penelitian akhir mahasiswa UNIPA di Dusner, lanjutnya, bahkan hanya menyisakan 3 penutur. 1 diantaranya telah meninggal.

Selain bahasa, dari sejumlah penelitian, juga didapati suku yang terancam punah di Papua Barat. Misalnya suku Wawiai. Sementara yang sudah punah adalah suku Mapia di Aiau. Kedua suku ini terletak di wilayah administrasi Kabupaten Raja Ampat.

Menurut Yusuf, Orang Mapia sudah tidak ada sama sekali sebab kepulauan Aiau kini hanya dihuni warga dari suku Biak. Akibatnya, suku ini tidak bisa ditelusuri sejaranya,  bahasanya, dan juga suda tidak bisa telusuru ciri manusianya. “Kita hanya mengandai-andai dan merekayasa saja karena suku ini sudah tidak ada,” katanya.

Status terancam punah pada sejumlah bahasa dan kepunahan suku, menurut Yusuf membuat Papua Barat kehilangan aset budaya dan kearifan yang khas pada suku dan bahasa tersebut.

“Ketika bahasa itu hilang dan suku itu hilang maka kita telah kehilangan hikmat dan kearifan budaya lokalitas kita,” tambah kolega Yusuf; Andreas. J. Deda,  Dekan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua.

“Bahasa dan budaya yang punah itu menggambarkan suatu kekalahan secara kolektif. Yang memprihatinkan adalah kita belum sempat memiliki dokumen yang nantinya bisa kita pelajari untuk melestarikannya,” kata Andreas.

Pada suku Mapia misalnya, Papua Barat akan kehilangan pengetahuan lokal kebaharian dan cara bertahan hidup dari suku pelaut tersebut.

Pemerhati budaya dari Fakultas Sastra UNIPA, Insum Malawat, mengatakan, agar tidak punah, bahasa daerah perlu diwariskan dan dituturkan pada tiap lapis generasi. |Safwan Ashari

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: