Kadis Kesehatan Kaimana Arifin Sirfefa pada suatu kegiatan waktu lalu.

KAIMANA, Cahayapapua.com— Dari operasi penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kaimana hingga Desember 2017, jumlah anak yang positif mengkonsumsi lem fox atau aibon di Kota Kaimana mencapai kurang lebih 500 orang. Jumlah ini mencakup semua usia, mulai dari anak kelas 1 SD hingga kelas III SMA.

PRODUK yang dikonsumsi bahkan bukan hanya lem aibon, tetapi bensin dan pempers bayi juga ikut diolah. Khusus pempers bayi, mereka mengambil gel yang terdapat didalamnya lalu diolah hingga berbentuk lem dan selanjutnya dihirup.

Slamet Laway, Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Kaimana pada kegiatan Sosialisasi Lintas Sektor Tentang Penyakit pada Anak dan Remaja yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana di Meeting Room Kaimana Beach Hotel, Kamis (21/12) lalu.

“Dari operasi penertiban yang kami lakukan selama ini, ada sekitar 500 anak positif terlibat aibon. Bukan hanya lem yang mereka konsumsi, tetapi bensin dan pempers anak juga mereka gunakan. Untuk pempers anak, gelnya diambil terus dibuat seperti lem setelah itu gasnya dihirup,” jelas Slamet.

Lebih jauh dalam kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Kesehatan Arifin Sirfefa, SKM,MM ini, Slamet juga menjelaskan, cara mengkonsumsinya mulai berubah. Jika sebelumnya menggunakan botol minuman aqua yang dipotong dan diisi lem lalu dihirup, kini cara itu diganti dengan meletakkan lem didalam baju switer lalu ditarik hingga posisi pergelangan tangan untuk kemudian gasnya dihirup.

“Disini anak aibon itu ada dari kelas 1 SD sampai SMA kelas III. Belakangan ini mereka sudah tidak lagi menggunakan botol. Mereka gunakan baju switer, lemnya ada di badan lalu ditarik sampai muncul di lengan. Didalamnya mereka tidak lagi gunakan baju alas, hanya pakai switer dan dari situlah mereka hirup gas aibon,” jelas Slamet.

Ia berharap, fakta ini harus segera ditanggulangi dengan pembentukan sebuah wadah untuk mengatasi semakin tingginya jumlah anak penghisap aibon. “Ini memang sudah termasuk persoalan urgen yang harus segera ditanggulangi. Kalau tidak dilakukan saat ini, maka persoalan akan semakin meningkat bahkan melebar,” ujarnya.

Senada, Ketua Dewan Adat Kaimana, Johan Werfete juga mengatakan, persoalan anak aibon merupakan persoalan bersama Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk menyelesaikannya. Ia berharap, Pemerintah Daerah melalui instansi terkait segera mengambil langkah bijak untuk mengatasi bertambahnya jumlah anak dan remaja pengkonsumsi aibon atau sejenisnya.

“Jumlah 500 ini sudah sangat memprihatinkan sehingga perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Perlu bentuk tim karena kalau hanya berbicara saja maka tidak akan ada jalan keluar yang kita bisa temukan. Keberadaan anak-anak aibon ini sangat mengganggu keamanan lingkungan. Mereka tidak takut pada siapa pun, seperti pahlawan yang siap mati kapan saja. Kami tokoh adat berharap ada organisasi yang dibentuk untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Saran pembentukan wadah pencegahan dan penanggulangan penyakit sosial anak dan remaja ini juga disampaikan sejumlah tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan pemuda yang hadir dalam sosialisasi dimaksud.

Kepala Suku Komoro, Yohanes Aturu berharap persoalan aibon segera ditanggulangi. Untuk mengatasinya perlu ada kerjasama antara Pemerintah Daerah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat dan para orangtua dari anak-anak yang terlibat aibon. “Anak-anak kami juga banyak yang terjebak dalam kelompok ini. Kami berharap kita sama-sama bekerja menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya. (isa)

Leave a Reply