Banjir menerjang kampung Coisi , Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Rabu (27-2). Kampung ini bersama Kampung Mbigma dihantam banjir bandang setelah hujan deras melanda daerah tersebut.

6 Rumah Tertimbun di Pegaf, 30 KK Mengungsi

PEGUNUNGAN ARFAK, Cahayapapua.com— 6 rumah warga di Kampung Coisi Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), tertimbun, Rabu (27/2) lalu, setelah hujan deras melanda daerah tersebut, dan menyeret material lumpur bercampur batu dan pasir ke pemukiman warga. Peristiwa tersebut terjadi pukul 15.00 WIT atau jam 3 sore.

Warga kini berada dalam keadaan was-was apalagi curah yang hujan tinggi dilaporkan saat ini berpotensi terjadi di wilayah Papua Barat, mengacu pada peringatan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 27 Februari lalu.

Dipan di rumah warga yang tertanam didalam lumpur dan material batu setelah kampung Coisi dihantam banjir Bandang. Sekitar 6 rumah telah tertimbun dan sejumlah rumah berada dalam ancaman yang sama.

Bencana tersebut mengakibatkan sekitar 30 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka saat ini mengungsi pada kerabat mereka yang terdekat. Selain 6 rumah tersebut terdapat dua warga di kampung Mbigma, diatas Kampung Coisi, yang rusak parah akibat dihantam bongkahan batu besar.

Dalam pengamatan di lapangan, diatas kampung yang berjarak sekitar 1 kilo meter lebih, dari ibukota Distrik Minyambouw itu, terdapat proyek pembangunan jalan menuju Distrik Catubow.

Warga menduga curah hujan yang tinggi pada saat itu, mengakibatkan debit meningkat. Debit air bercampur lumpur, batu dan pasir tersebut mengalir melalui bahu jalan, namun karena terlalu banyak akhirnya mengarah ke pemukiman.

Sekretaris Kampung Coisi, Wempi Insen, mengatakan, saat banjir terjadi warga kaget warga berhamburan keluar rumah. Beruntung banjir tersebut terjadi pada siang hari sehingga tak ada korban jiwa. Meski begitu ia menyatakan warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka rusak berat.

Ia menggambarkan, banjir membawa material pasir, lumpur dan bebatuan, termasuk yang berukuran besar sehingga dengan mudah merusak rumah yang sebagian berupa rumah semi permanen.

Wempi mengatakan, sebenarnya banjir serupa sudah terjadi sejak Desember 2016, namun saat itu intensitas masih kecil. Meski begitu saat itu rumah warga sudah mulai dipenuhi material batu bercampur pasir dan lumpur. Rumah warga baru benar-benar tertimbun setelah banjir 27 Februari lalu.

“Akibat banjir ini sekitar 30 Kepala Keluarga (sebagian besar) dari Kampung Coisi dan Kampung Mbigma mengungsi karena kehilangan tempat tinggal,” kata Wempi. Dalam satu rumah di dua kampung tersebut terdapat sekitar 3 KK. Saat ini mereka mengungsi ke kerabat terdekat mereka. Ia memastikan tak ada korban jiwa dan luka dalam peristiwa tersebut.

Wempi menambahkan sejak awal hingga banjir besar melanda, belum ada respon dari pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak maupun pemerintah Papua Barat. “Warga sekarang terpaksa harus makan seadanya lantaran persediaan makanan mereka sudah menipis,” ia menerangkan.

Yuliana Indow, warga Kampung Coisi mengatakan, banjir tersebut menyebabkan mereka trauma dan kini hidup dalam keadaan was-was, apalagi belakangan ini sering terjadi hujan deras.

Tokoh pemekaran Pegunungan Arfak, Daud Indouw, saat meninjau lokasi tersebut, Kamis (2/3), menyatakan, bencana tanah longsor menimpa warga Kampung Coisi, karena air yang berasal dari gunung saat itu dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, selokan tidak memungkinkan air tersalur dengan baik. Air tersebut, ia melanjutkan, bertemu dengan material labil di sekitar kampung yang akhirnya terbawa ke dalam pemukiman.

Ia berharap pemerintah daerah setempat segera memberikan perhatian kepada warga, termasuk membantu memperbaiki sumber masalah di atas Kampung Coisi. “Belum satupun warga mendapatkan bantuan makanan, obat obatan, serta tenda pengungsian, dari pemerintah daerah maupun provinsi,” kata mantan anggota DPRD Manokwari ini.

Saat ini warga yang rumahnya terancam terkena dampak banjir lanjutan, bersiaga untuk mengungsi, jika terjadi longsor, mengingat tempat tinggal juga sudah mulai terancam. Bencana ini diperkirakan menelan kerugian ratusan juta rupiah. (ONE/*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: