Pejabat Eselon III pada assessment centre oleh lembaga Psikologi Psikodinamika.
Pejabat Eselon III pada assessment centre oleh lembaga Psikologi Psikodinamika.

82 Calon Pejabat Tes Psikologi, Telat, 11 Lainnya Tidak Diizinkan Masuk 

KAIMANA, Cahayapapua.com— Tahap awal seleksi pejabat yang akan menempati kursi pejabat eselon II dan III mulai dilakukan. Kemarin, Senin (31/10/2016) di Gedung Pertemuan Casuarina Krooy, sebanyak 82 calon pejabat dari 93 yang terdaftar mengikuti Assessment Center Jabatan Tinggi Pratama. Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Kaimana Drs. Matias Mairuma dengan melibatkan 10 Psikolog dari Biro Psikologi Psikodinamika Jakarta pimpinan Poppy Amalia, M.Psi, Psikolog, CHt, MNPL.

Bupati Matias Mairuma pada pembukaan kegiatan yang lazin disebut tes psikologi ini berharap, assessment center dapat terselenggara dengan baik sehingga bisa menghadirkan sosok pejabat yang benar-benar mampu bekerja, memiliki sikap dan kepribadian yang baik, loyal, disiplin serta bertanggungjawab terhadap tugas yang akan diemban.

Sebelumnya, saat menggelar konferensi pers, Bupati jelaskan, assessment center atau tes psikologi perlu dilakukan karena seringkali ada pejabat yang tidak konsisten dengan ucapannya. Pejabat yang bersangkutan, setelah dilantik, selain tidak disiplin dalam melaksanakan tugas, juga cenderung mengabaikan tanggungjawab. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, selain berpengaruh terhadap menurunnya semangat kerja bawahan, juga berakibat pada rendahnya kemampuan SKPD dalam mengimplementasikan program kerja.

Kesempatan terpisah, Ketua Tim Assessment Center yang juga Pimpinan  Biro Psikologi Psikodinamika Poppy Amalia kepada Cahaya Kaimana di VIP Gedung Pertemuan Krooy menjelaskan, assessment center merupakan sebuah metodologi yang digunakan untuk mengukur bagaimana kompetensi seorang individu, serta gambaran prilakunya sehingga ketika terpilih, dia benar-benar merupakan calon pejabat yang paling dibutuhkan user, dalam hal ini Bupati Kaimana.

Dijelaskan, kegiatan ini berlangsung selama sehari, yang dimulai dengan  psikotes mencakup tes IQ, bakat, minat dan tes kepribadian. Tahap berikut adalah LGD (Leadership Group Discussion) serta interview. “Kita mulai dengan psikotes. Bagaimana dia mengkontrol orang lain, mengorganisir dan melakukan aksi. Kemudian masuk ke LGD, mereka melakukan diskusi kelompok untuk melihat bagaimana kemampuan yang bersangkutan pada saat memimpin sebuah kelompok. Kegiatan ini ditutup dengan intervieuw berbasis kompetensi. Kita membuat rumus kompetensi berdasarkan kebutuhan user,” jelas Amalia.

Lebih jauh Poppy Amalia jelaskan, hasil dari kegiatan ini akan diserahkan kepada panitia seleksi sebagai acuan dalam melakukan tahapan seleksi berikutnya. Namun pada tiga minggu kemudian, tim dari psikologi psikodinamika akan kembali ke Kaimana untuk melakukan upgrade atau proses pembaharuan terhadap hasil tes yang telah dilaksanakan sebelumnya. Upgrading diperlukan untuk menguji konsistenitas calon pejabat.

Ditanya jumlah peserta, Poppy jelaskan, dari total 93 yang diserahkan kepada pihaknya, hanya 82 yang hadir dalam kegiatan. Sisanya tidak diikutkan karena terlambat. Keterlambatan ini lanjut Poppy, tidak dapat ditolerir karena merupakan bagian dari ujian kedisiplinan. “Kami serius menjalani ini. Yang terlambat tidak kami libatkan karena ini juga bagian dari ujian kedisiplinan. Entah nanti mau dibagaimanakan tergantung user,” tegas Poppy Amalia. (ISA)

Tinggalkan Balasan