Ilustrasi korupsi. | Ist

Agus Bantah Kesaksian Hendrik

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Bekas Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Teluk Wondama, Agus Yulianto, membantah jika disebut hanya menyerahkan uang Rp. 250 kepada Bekas Kepala Bappeda Teluk Wondama, Hendrik.

Bantahan ini disampaikan Agus terhadap kesaksian Hendrik dalam sidang kasus korupsi dana Wisata Rohani Teluk Wondama sebesar Rp. 1,5 miliar, yang menjerat dirinya sebagai terdakwa, di pengadilan Tipikor Papua Barat, Senin (3/11/2014). Dalam sidang tersebut, Hendrik mengatakan ia menerima dana dari Agus dalam dua tahap. Tahap pertama Rp. 100 juta dan tahap II kedua Rp. 150 Juta.

“Uang yang saya berikan kepada saudara Hendrik itu sebenarnya Rp. 270 juta. Rp. 250 juta serahkan langsung, sedangkan 20 juta diserahkan kepada Kabag Hukum Teluk Wondama di Kediaman Bupati Wondama di Manokwari,” bantah Agus Yulianto.

Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan 3 saksi masing-masing Hendrik dalam posisinya sebagai bekas Kepala Bappeda Teluk Wondama, Bendahara Bantuan Sosial dan Dana Hibah Teluk Wondama Theopilus Rumaseb dan mantan Pjs Kepala Unit Bank Papua Cabang Teluk Wondama Ester.

Hendrik juga mengatakan, belum memeriksa laporan pertanggungjawab terdakwa yang telah diserahkan terdakwa kepadanya.

Hasil audit BPKP Papua Barat menemukan adanya dana tak relevan dalam anggaran Rp. 100 juta dari terdakwa kepada Hendrik sebesar Rp. 3 Juta. Sementara dalam anggaran Rp. 150 juta dana tak relevan senilai Rp. 4 juta.

Sementara itu Theopilus Rumaseb membenarkan ada anggaran senilai Rp 3 miliar untuk Perjalanan Wisata Rohani ke Yerusalem. Namun dana tersebut tidak sesuai peruntukannya karena Rp. 1,5 miliar dipakai untuk penanggulangan bencana Wasior 2010, sementara sisanya Rp. 1,5 miliar di kembalikan ke negara.

Ester mengatakan tidak tahu menahu soal kegiatan perbankkan saat itu, sebab saat itu saksi sedang berada di Merauke. “Saat itu 5 Oktober 2010 saya dengar Wasior telah dilanda banjir bandang, menewaskan ratusan orang. Namun saat kembali ke Wasior, kantor Bank Papua sudah pindah ke kantor lain,”  ujarnya. Setelah mendengar keterangan saksi, sidang ditunda hingga pekan depan.

Agus Yulianto dijerat pasal 2 dan 3 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999, telah diubah kedalam Undang Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2001, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ia diduga menggunakan Dana Wisata Rohani senilai Rp 1,5 Miliar untuk penanggulangan bencana banjir bandang Wasior, Oktober 2010 lalu. Namun penyidik mengatakan dana wisata rohani tidak bisa dialihkan untuk keperluan bencana karena tak melalui persetujuan DPRD Teluk Wondama saat itu.

Sebenarnya total anggaran wisata rohani sebesar Rp. 3 miliar, namun Rp. 1,5 miliar telah dikembalikan Theopilus ke kas negara. |TAKDIR

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan