Ilustrasi. Foto: Ist

AJI Jayapura Kecam Sikap Reaktif Aparat Kepolisian

MANOKWARI— Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura mengecam sikap reaktif pihak kepolisian terhadap sejumlah pekerja pers yang meliput aksi unjuk rasa simpatisan Komite Nasional Papua Barat di sejumlah kabupaten di Papua dan Papua Barat Senin kemarin.

Berdasarkan catatan AJI Jayapura terjadi sejumlah kasus kekerasan yang menimpa sejumlah awak media seperti di Jayapura dan Fakfak.

Ardi Bayage, wartawan dari Suara Papua mengalami tindakan kekerasan dari oknum anggota polisi saat meliput aksi KNPB di Kota Jayapura bahkan telepon seluler yang bersangkutan dirusak.

“Ardi mengaku dicurigai sebagai salah satu aktivis KNPB. Padahal ia telah menunjukkan kartu pers kepada pihak kepolisian ketika meliput aksi unjuk rasa tersebut,” kata Koordinator Advokasi AJI Jayapura Fabio Lopes dalam siaran pers yang diterima Cahaya Papua Selasa sore.

Kasus yang kedua menimpa stringer Metro TV Morten Kabes saat meliput kegiatan KNPB di Fakfak, Papua Barat.

“Morten mengaku dipukul oknum anggota Polres Fakfak berinisial ER hanya karena menggunakan topi di dalam lingkungan kantor polres,” terang Lopes.

Morten terkena pukulan di bagian dagu. Setelah itu ia masih diancam oknum tersebut. Pemukulan tersebut terjadi di hadapan sejumlah perwira Polres Fakfak.

Selain kedua kasus itu, AJI mencatat sejumlah kasus lainnya yang menimpa sejumlah awak media pada hari yang sama namun mereka belum mengungkapkannya dengan pertimbangan tertentu.

“Terkait dua kejadian yang menimpa awak media di Jayapura dan Fakfak AJI Jayapura meminta klarifikasi dari pihak Polda Papua dan Polda Papua Barat,” Lopes mengatakan.

Menurutnya klarifikasi diperlukan sebab sikap sejumlah oknum aparat terkesan menutupi kerja pers dan semakin menegaskan bahwa tidak adanya keterbukaan informasi atas isu-isu sensitif yang terjadi di tanah Papua.

“Apabila benar ada kesengajaan pengerusakan telepon seluler dan penganiyaan terhadap rekan pers, kami berharap pimpinan dari dua instusi polda bisa menindaklanjutinya,” ujarnya.

AJI juga mendesak pihak kepolisian untuk memahami kerja pers mengacu pada kode etik jurnalistik. Salah satunya prinsip keberimbangan atau cover both side.

“Kami juga berharap aparat penegak hukum dan pers terus menjalin hubungan sebagai mitra bersama untuk membangun situasi keamanan yang kondusif di Papua yang tercinta.”

Selain itu AJI mendorong jurnalis untuk menyajikan fakta-fakta lapangan yang berimbang dan bertugas secara independen.

“Kami juga mengharapkan rekan-rekan pers lebih cermat menempatkan diri dalam peliputan konflik. Indentitas lembaga pers harus ditunjukkan secara jelas ketika meliput. Rekan-rekan pers juga harus berada di zona netral sehingga tak memancing amarah dari kedua pihak yang sementara bertikai.” (MAR)

Tinggalkan Balasan