Ilustrasi. Foto: suara.com

Akademisi : Peta Kemiskinan di Papua Barat Sudah Jelas

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.comDekan Fakultas Ekonomi Universitas Papua, Achmad Rohani mengatakan, peta kemiskinan di Papua Barat sudah sangat jelas. Hal itu bisa menjadi target dan sasaran program pengentasan yang dilakukan baik pemerintah daerah maupun pusat.

Menurutnya, persoalan kemiskinan yang terjadi di daerah ini membutuhkan penanganan secara serius. Beberapa uyapa dilakukan untuk melacak keberadaan warga miskin tersebut.

Dari kajian yang dilakukan Unipa bersama beberapa pemangku kepentingan lain, disimpulkan bahwa kemiskinan cenderung terjadi di daerah otonomi baru, di wilayah pedesaan, sebagian besar dialami orang asli Papua serta warga yang berprofesi sebagai petani dan nelayan.

“Kemiskinan cenderung terjadi di kabupaten baru. Ini cukup beralasan karena kabupaten baru ini awal mulanya adalah distrik-distrik terbelakang di kabupaten induk,” katanya.

Kemiskinan pun, katanya, cenderung di wilayah pedesaan yang warganya bermatapencaharian pada sektor ekstraktif, seperti petani dan nelayan yang masih menerapkan cara-cara yang jauh dari teknologi.

Menurut dia, selama ini sudah ada upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah melalui program bantuan. Namun upaya tersebut belum terfokus dan berkesinambungan karena terbatasnya anggaran.

“Menurut kami pemberdayaan pada sektor pertanian dan nelayan harus lebih difokuskan. Selain bantuan, sebaiknya pendampingan pun lebih ditingkatkan agar bantuan yang dikucurkan memberi manfaat yang lebih besar,” ucapnya.

Dia pun menyarankan, alokasi anggaran pada program pengentasan kemiskinan mendapat proporsi yang lebuh besar. Sehingga selain bantuan sarana prasarana, pemerintah bisa lebih intensif dalam pendampingan.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Papua Barat, Suryana di pada kesempatan sebelumnya mengutarakan, jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan di Papua Barat mencapai 225.800 atau 25,43 persen dari total penduduk di daerah tersebut.

Dia menyebutkan, data warga miskin periode Maret 2016 lebih tinggi dibanding September 2015 yang baru sebanyak 225.536. Peningkatan angka kemiskininan seiring dengan jumlah penduduk.

Peningkatan angka kemiskinan cenderung terjadi di daerah perkotaan. Sementara di pedesaan jumlah warga miskin mengalami penurunan.

“Pada September 2015 tercatat jumlah penduduk miskin di perkotaan sebesar 18.819 jiwa, naik menjadi 20.957 jiwa pada Maret 2016. Di pedesaan, dari 206.716 jiwa pada September 2015 turun menjadi 204.845 jiwa pada Maret 2016,” katanya lagi. (IBN)

Tinggalkan Balasan