Salah satu sudut di kampus Unipa, Manokwari yang terlihat sepi. Foto: CAHAYAPAPUA.com |Adith Setyawan

Aksi Balasan Dosen, Perkuliahan di UNIPA Lumpuh

Laporan: PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com

AKTIVITAS perkuliahan lumpuh di Universitas Negeri Papua, sejak Rabu (5/11/2014) hingga Kamis (6/11/2014). Kampus yang terletak di Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat ini tak seramai biasanya. Hanya satu dua orang yang terlihat seliweran.

“Teman-teman dosen masih mogok,” kata Baso Daeng, salah satu staf pengajar di kampus ini kepada CAHAYA PAPUA.com, Kamis sore soal penyebab sepinya kampus.

Aksi mogok mengajar yang dilakukan oleh para dosen di universitas ini merupakan balasan terhadap pemukulan 3 dosen yang dilakukan massa mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi, Selasa siang lalu.

Aksi ini diorganisir oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UNIPA yang diketuai Alosius Siep. Mereka kecewa karena Rektor UNIPA, Dr.Suriel Mofu, berbicara dalam sebuah seminar di Belanda bersama Frans Albert Yoku.

Menurut Aloisius, kebencian mereka terhadap Yoku adalah karena Yoku yang awalnya pahlawan bagi orang papua, justru berbalik arah menghianati perjuangan karena menyokong Papua dalam kerangka NKRI.

Selain itu mahasiswa marah karena Suriel Mofu dalam seminar itu dinilai memutar balikkan fakta soal Otsus di Papua.

“Pada dasarnya artikel pak rektor itu secara akdemis banyak yang betul. Kami sudah kaji. Tapi kami marah soal Otsus yang disebut berhasil. Ia bangga menyebut dirinya menjadi doktor orang Papua jebolan Oxford karena Otsus plus,” kata Alosius.

Tapi faktanya, lanjut Alosius, “Otsus ada bikin orang papua berkelahi, ada hancur-hancur, gagal! Lagipula mana ada Otsus plus?”

“Masalah berikutnya adalah, kenapa pak rektor harus bicara itu di Belanda? Kenapa tidak bicara di Papua atau bicara kepada pemerintah daerah,”  tukasnya lagi.

Rupanya ada dua kubu mahasiswa dalam isu ini. Pertama yang pro kepada agenda aksi BEM UNIPA. Kubu kedua yang pro kepada rektor. Selasa lalu, Suriel Mofu menyampaikan klarifikasi di hadapan massa mahasiswa yang diorganisir oleh BEM.

Massa BEM berdiri di depan aula UNIPA sembari mendengar bantahan rektor. Sementara kelompok yang pro terhadap rektor, memilih berdiri di samping perpustakaan UNIPA yang jaraknya tidak jauh dari aula.

Tak lama kemudian, suasana berubah tegang. Kelompok massa BEM tiba-tiba mengejar sekelompok mahasiswa yang mendukung rektor.

Dalam peristiwa yang masih berentetan itu, kelompok mahasiswa yang diorganisir BEM UNIPA  melakukan aksi sweeping, mereka memaksa mahasiswa lain untuk bergabung dalam aksi mereka.  Mereka juga tidak menginginkan adanya aktivitas perkuliahan.  Namun mereka mendapati ada mahasiswa yang ngotot masuk kampus. Mahasiswa itu lantas dipukuli.

Baso Daeng setidaknya mengangkat 2 mahasiswa yang menjadi korban pemukulan ke Puskesmas Amban.

Aksi kekerasan juga terjadi di Fakultas Sastra yang terletak di puncak bukit. Sekelompok mahasiswa yang menggelar aksi mengetahui adanya perkuliahan di fakultas tersebut. “Mereka membabi buta menghentikan aktivitas perkuliahan,” kata Kapolsek Amban, Agustina Sineri.

Naas bagi tiga dosen diantaranya Dr. Agus Sumule, Dr. Ishak Musa’ad dan Fadly Zainuddin, S.Pi., M.Si yang didapati mahasiswa di sekitar kampus. Mereka ikut dipukul oleh massa mahasiswa yang kalap. Padahal mereka ke kampus bukan untuk mengajar namun menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan administratif.

Ada juga dosen yang hendak ke laboratorium menyelesaikan penelitiannya dan mengurus kepentingan kampus.  Fadly Zainuddin misalnya, ia dipukuli saat selesai mengikuti rapat persiapan akreditasi.

Pemukulan ketiga koleganya inilah yang membuat para dosen di UNIPA menggelar aksi mogok mengajar sejak Rabu lalu.

Baso Daeng mengatakan, Jumat (7/11) besok, akan digelar pertemuan anatara rektor UNIPA dengan para dosen pada pukul 13.30 WIT “Selain mogok minggu ini, kami masih mengikuti perkembangan penanganan kasus pemukulan para dosen,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan