Ilustrasi

Aktivis: Mustahil Ketua Umum Tidak Tahu Aliran Uang KONI

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Kasus korupsi pembangunan kantor sekretariat KONI Papua Barat tahun 2012 saat ini menyeret beberapa nama beken di lingkungan pengurus KONI Papua Barat. Selain AR, polisi akhirnya menetapkan YR sebagai tersangka walaupun belum ditahan.

Kabid Humas Polda Papua Barat AKBP. JH. Sitorus yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/4), mengatakan, AR saat ini yang ditahan di ruang tahanan Polres Manokwari yang masih menunggu surat dari Kejati Papua mengenai kelengkapan berkas tersangka.

Sementara YR, menurut Sitorus belum ditahan meski yang bersangkutan telah diperiksa berkali kali oleh polisi.

“Jadi pemeriksaan ini menyangkut hal-hal yang diketahui tersangka, fokus pertanyaan mengenai siapa saja yang bersama sama mengambil uang tersebut, dan untuk apa saja uang itu digunakan,” beber Sitorus.

Mengenai dugaan tersangka baru selain AR dan YR, Sitorus mengatakan penyidik yang lebih mengetahui hal tersebut namun menurutnya polisi akan menyelesaikan kasus ini satu demi satu.

Sementara itu Aktivis Jaringan Advokasi LSM Papua Barat Andreas Wabdoren menuding Ketua Umum KONI Papua Barat mengetahui aliran uang di KONI Papua Barat termasuk Bendahara Umum saat itu.

“Mustahil Ketua Umum KONI tidak tahu, begitu juga bendahara umum. Peran mereka masing-masing sangat jelas. Penyidik tentu lebih paham mengenai hal ini,” kata Andreas.

Menyangkut penyitaan aset AR yang belakangan masih ditemukan aktivitas seperti toko dan ruko, Andreas meminta Polda untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat. “Kenapa barang yang sudah disita oleh negara masih terdapat aktivitas di dalamnya. Polda harus menjelaskan ini,” kata Andreas.

Kasus korupsi pembangunan kantor KONI Papua Barat tahun 2012 senilai Rp.46 miliar diduga merugikan negara Rp 27,6 miliar. Para tersangka dijerat dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU. Penyidik juga telah menyita beberapa aset milik AR seperti toko, ruko dan gudang. (MAR)

Tinggalkan Balasan