Iustrasi
Iustrasi

Alamak! Aset Nasabah Pegadaian Dipinjamkan

MANOKWARI, Cahayapapua.com—- Pegadaian dikenal karena slogan ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’. Tampaknya filosofi ini kurang diresapi oleh eks kepala Pegadaian Manokwari, Mohammad Jaya. Bagaimana tidak, aset nasabah, malah  ia pinjamkan ke orang lain tanpa melalui prosedur di lembaga yang ia pimpin setelah diming-imingi janji ‘bagi hasil’.

Akibat tindakannya ini, Jaya harus pasrah berhadapan dengan masalah hukum. Ia diseret sebagai ‘pesakitan’ alias terdakwa di pengadilan tindak pidana korupsi Papua Barat dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang.

Dalam lanjutan sidang yang digelar pada Selasa (16/8) lalu, dihadirkan Anes Fadhila. Dia adalah orang yang memanfaatkan pinjaman tersebut. Selain berstatus saksi, dia juga dijerat sebagai tersangka dan kini kasusnya ditangani Polres Manokwari.

Ketika diuber sejumlah pertanyaan oleh majelis Hakim, Anes bertutur bahwa dia memang meminjam uang secara bertahap dari Jaya. Yang menggelitik, rupanya dia dan Jaya belum saling mengenal sebelumnya. Setidaknya begitulah pengakuan Anes.

Singkat cerita, lewat seorang perantara bernama Beny yang memperkenalkan mereka pada 2015 lalu, akhirnya Anes sukses  mendapat pinjaman. Pinjaman pertama sebesar 185 juta rupiah, tanpa jaminan dan dengan modal kepercayaan.

Pinjaman tersebut berhasil ia lunasi sebelum meminjam lagi secara berturut-turut Rp 90 juta, 30 juta, 35 juta hingga ratusan juta rupiah. Sehingga totalnya mencapai sekitar 800 juta rupiah. Jika dihitung dengan bunga, sebut Anes, totalnya sekitar 1 miliar rupiah. “Pinjaman itu saya bayar secara berangsur. Baik secara cash maupun transfer,” ucapnya.

Meski begitu, ia mengaku sama sekali tidak tahu kalau uang tersebut berasal dari kas pegadaian atau uang milik nasabah. Selain Anes, suaminya yang bernama Dody—oknum anggota Polri– juga menjadi tersangka dalam kasus ini.

Menanggapi keterangan Anes, Jaya yang ditemui Cahaya Papua secara terpisah justru menyangkal sejumlah pernyataan mantan ‘krediturnya’ itu.  Dia mengatakan, ketika meminjam secara perdana pada tahun 2015, Anes berjanji melunasi pinjaman dalam tempo seminggu. “Setelah saya berikan uangnya, dia melanggar perjanjian. Lewat satu minggu, Saat itu saya pinjamkan Rp 200 juta,” ujarnya.

Selain itu Jaya menyebut bahwa Anies Fadila akan membagi hasil atas usaha yang dikelolanya. Nyatanya dia hanya mendapat janji bodong alias dibohongi. “Kalau pinjaman dengan bunga sebenarnya saya menolak. Namun karena dia berjanji akan membagi hasil makanya saya berani kasih pinjam,” tangkisnya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Kampung Ambon Manokwari, Rabu (17/8) usai mengikuti upacara hari kemerdekaan RI.

Itu sebabnya, meski mengaku bahwa uang yang dipinjamkannya itu adalah aset nasabah namun ia meminta agar hakim bersikap adil. Pasalnya, ia merasa sebagai korban yang dibohongi atau ditipu oleh Anes dan suaminya yang kini diperiksa dalam kasus penipuan. Ia juga menyatakan bahwa pada dasarnya Anes tahu bahwa uang yang ia pinjam itu aset nasabah Pegadaian Manokwari.

Sementara itu Kuasa hukum Jaya, Yan Cristian Warinussy, mengatakan Anes Fadhilah memang meyebut sudah mengembalikan uang via bank dan secara tunai.  Namun pernyataan itu perlu dibuktikan lagi. “Kita akan membuktikan hal itu melalui bukti transfer,” katanya.

Soal pengakuan Anes yang menyebut tidak tahu menahu soal status uang yang dipinjamnya, Warinussy menyebut itu hanya asumsi Anes saja. “Kita kembalikan ke penilaian majelis hakim atas pengakuan saksi itu,” ucapnya datar. (MAR/CHE)

Tinggalkan Balasan