Ilustrasi. Site Tangguh LNG di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. | Dokumentasi CAHAYAPAPUA.com

Alokasi Gas Tangguh untuk Papua Barat Butuh Dukungan Infrastruktur

TELUK BINTUNI,CAHAYAPAPUA.comSelain menambah pasokan kebutuhan domestik, ekspansi proyek Tangguh LNG Train 3, juga akan mendorong peningkatan kesejahteraan dan pembangunan ekonomi di Provinsi Papua Barat.

Government And Public Affair BP Tangguh, Budiman Moerdijat, Minggu (30/11/2014), mengatakan, dukungan itu salah satunya berupa dukungan daya listrik melalui PLN sebesar 4 megawatt di Kabupaten Teluk Bintuni.

Proyek ekspansi ini juga mengalokasikan gas (LNG) untuk Papua Barat–mencakup Bintuni dan Fakfak– sebesar 20 juta kaki kubik per hari. Namun untuk bisa digunakan, alokasi gas itu juga harus didukung oleh kesiapan infrastruktur.

“Infrastruktur ini yang sedang dibicarakan skemanya antara Pemrov Papua Barat, SKK Migas sebagai regulator dan BP sebagai kontraktor, demikian halnya skema komersialnya yang juga sedang dalam tahap pembicaraan,” katanya di Site Tangguh LNG, Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni. “Alokasi gas ini baru tersedia setelah train ketiga jadi, yakni pada tahun 2019.”

Seperti diketahui, AMDAL Ekspansi Proyek Tangguh mewajibkan program gas untuk listrik bagi Provinsi Papua Barat yang memungkinkan populasi di wilayah pesisir pantai di provinsi itu untuk menghasilkan listrik yang terjangkau, baik melalui pipa gas atau LNG dari Tangguh.

BP berkomitmen untuk mengalokasikan 15mmcf per hari, cukup untuk menghasilkan daya sekitar 50 sampai 80MW.

Elektrifikasi daerah sekitar yang terkena dampak ekspansi proyek ini adalah isu jangka pendek paling penting.

Terjangkaunya harga elektrifikasi permanen bagi rumah atau tempat usaha merupakan peningkatan dramatis. Listrik berbasis diesel (dan solar) dipasang di kampung RAV (kampung yang terkena dampak pemukiman kembali/) saat mereka dibangun, tapi tak ada yang tersedia untuk kampung DAV (kampung yang terkena dampak langsung/9 kampung).

Ditahun 2013, setelah penundaan panjang, PLN memasang sistem distribusi di berbagai kampung DAV setelah BP membangun unit pembangkit listrik 8 MW dan menghubungkannya dengan gardu induk PLN dekat kilang LNG.

Seperti disebut di atas, listrik mengalir ke Kota Bintuni di bulan Februari 2014, dengan daya 4 MW, sebelum kesepakatan AMDAL baru. Kendati begitu, jaringan listrik belum tersedia di kampung DAV lain di pesisir pantai utara dan selatan, atau di Babo.

Panel Penasihat Independen Tangguh atau Tangguh Independent Advisory Panel (TIAP) tahun ini dalam laporan dan rekomendasinya memberi perhatian salah satunya terhadap isu ini.

TIAP merekomendasikan agar BP bekerja sama dengan PLN dan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, UP4B, untuk membangun infrastruktur.

Selagi pembangunan berjalan, BP harus meminta persetujuan SKKMigas untuk elektrifikasi sementara berbasis diesel. |PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan