Hakim Pengadilan Agama Manokwari, Riston Pakili.

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Kasus perceraian di lima kabupaten di Papua Barat masih cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Oktober 2017, Pengadilan Agama Manokwari mencatat, angka perceraian mencapai 151 kasus atau setengah lebih dari tahun 2016 yang berada diangka 213 kasus.

Hakim Pengadilan Agama Manokwari Riston Pakili mengatakan, kasus perceraian tersebut berasal dari seluruh kabupaten yang dibawahi Pengadilan Agama yakni Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Pegunungan Arfak dan Teluk Wondama.

“Kasus perceraian paling banyak terjadi di Manokwari,” kata Riston kepada Cahaya Papua di ruang kerjanya, Kamis (5/10).

Riston mengatakan, perceraian tersebut didominasi pasangan muda yang berumur 19 – 30 tahun. “Penyebab beragam. Mulai perselingkuhan, perselisihan tak berkesudahan sampai hal sepele. Selain itu alasannya, mereka merasa bahwa suami mereka tidak bertanggung jawab. Suami juga disebut tidak menafkahi keluarga,” terang Riston.

Namun menurut Riston, tingginya angka perceraian pasangan muda berkaitan dengan ketidaksiapan mental mereka dalam membangun rumah tangga. “Usia 19-30 tahun ego masing-masing masih sangat tinggi. Tidak ada yang mau mengalah, selalu merasa benar,” ujarnya.

Pengadilan Agama Manokwari mencatat dalam dua tahun terakhir 2015 dan 2016 kasus perceraian sebagian besar diajukan pihak perempuan. Pada 2015 tercatat 190 kasus perceraian sementara 2016 melompat menjadi 213 kasus.

Menurut Riston, selain berpendidikan, keaktifan atau kesibukan perempuan berumah tangga karena pekerjaan, juga membuat mereka enggan melakukan kegiatan domestik atau terus berada di dapur. (CR80)

 

Leave a Reply