Aparat Diminta Kedepankan Asas Praduga Tak Bersalah

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com- Panglima Daerah Militer XVII Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian, menyatakan, akan mengawasi proses penyelidikan dan pengumpulan bukti-bukti kasus pembunuhan Ny. Frelly dan dua anaknya di Teluk Bintuni. Meski demikian, ditengah upaya untuk mengungkap kasus ini, Polisi militer Kodam XVII/Cenderawasih diminta tetap independen, profesional dan mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

Penasehat Hukum Semuel Jitmau– anggota TNI Angkatan Darat dari Satuan Yonif 752 Bintuni Kompi E yang saat ini berstatus sebagai saksi dalam kasus tersebut— Yan Christian Warinussy menyatakan, pernyataan Danrem 171/PVT, Brigadir Jenderal TNI Purnawan Widi Andaru di sejumlah media massa, Selasa (22/9) lalu yang menyebut Samuel diduga kuat terlibat dalam kasus tersebut, terkesan tendensius dan melanggar hukum.

Alasannya, karena pernyataan itu tidak dilandasi bukti yang sah menurut hukum. Selain itu pihak yang berkompeten yakni Polisi Militer (POM) TNI Angkatan Darat maupun Kepolisian Resor (Polres) Teluk Bintuni belum pernah membuat kesimpulan hasil penyelidikan maupun penyidikan untuk menetapkan status Semuel sebagai terduga/tersangka.

“Aparat belum menyampaikan apa sesungguhnya motif dari kasus pembunuhan tersebut,” jelasnya melalui surat elektronik yang diterima Cahaya Papua, Kamis (24/9).

Warinussy juga meminta aparat tetap bekerja menurut tata aturan hukum acara pidana militer serta menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia.
Menyangkut upaya hukum untuk membela Semuel, Warinussy menyatakan, pihaknya meminta perhatian Panglima Kodam XVII Cenderawasih dan Pom Kodam XVII/Cenderawasih agar memberi akses dan ruang bagi pihaknya agar bisa hadir dan mendampingi Samuel dalam seluruh tingkat dan tahap pemeriksaan.

Ia pun meminta media massa agar tidak sembrono menggunakan diksi “pembunuhan sadis”. Hal ini mengingat Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) hanya mengenal delik Pembunuhan Biasa (pasal 338) dan Pembunuhan Berencana (pasal 340).
“Kami sedang mengumpulkan sejumlah pemberitaan sejumlah media massa yang sifatnya menjurus ke tindak pidana pencemaran nama baik klien kami,” sebutnya.

Secara terpisah, Panglima Daerah Militer XVII Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburia menyatakan, tindakan untuk melakukan pengawasan terhadap proses penyelidikan dan pengumpulan bukti-bukti pada dasarnya dimaksud untuk mempercepat pengungkapan kasus tersebut.
“Upaya penyelidikan dan pengumpulan bukti-bukti dalam pengawasan saya supaya prosesnya cepat,” tegasnya kemarin.

Ia menyatakan, sejauh ini TNI mendapat indikasi kuat bahwa oknum TNI Prada Semuel Jitmau diduga terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut, meski tidak membeberkan bukti-bukti baru yang menguatkan pernyataan tersebut. “Hasilnya, didapatlah indikasi yang kuat terhadap seorang oknum anggota TNI berinsial SJ itu,” ucap Pangdam singkat.

Ia mengatakan TNI akan menetapkan Semuel Jitmau sebagai tersangka, yang dilanjutkan kepada proses hukum di Mahkamah Militer, jika telah mengantongi bukti-bukti yang memenuhi unsur dugaan pembunuhan.

Menurut Pangdam, yang bersangkutan masih diperiksa oleh Den POM Jayapura. “Jika indikasi kuat dan mengarah dengan bukti-bukti yang ada, maka akan segera kami limpahkan ke Oditur Militer dan dilanjutkan ke Mahkamah Militer untuk diproses hukum,” katanya.

Pangdam pun menyatakan keprihatinannya terhadap pembunuhan tersebut, namun mengatakan, tetap menaruh perhatian terhadap kasus tersebut karena merupakan kasus yang sangat ‘menonjol’.

Kasus ini sebelumnya ditangani Polres Teluk Bintuni dibawah pengawasan Polda Papua Barat. Kapolda Papua Barat Brigadir Jenderal Royke Lumowa Kamis pekan lalu menyatakan, dari 5 saksi kunci yang diperiksa, salah satu diantarannya merupakan anggota TNI.

Saat itu dihadapan ribuan warga Manokwari yang menggelar aksi untuk mendorong penungkapan kasus ini di kantor Mapolda Papua Barat, Kapolda berjanji akan mengungkap kasus ini dalam 7 hari, atau hingga hari ini.

27 Agustus lalu, Frelly Dian Sari, 26 tahun, yang dikabarkan sedang mengandung, bersama dua orang anaknya, Cicilia Putri Natalia, 6 tahun, dan Andika, 2 tahun, ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan di rumah mereka distrik Sibena Teluk Bintuni. Ketiga korban ini diduga dibunuh 25 Agustus. | PATRIX B. TANDIRERUNG |ADITH SETYAWAN