Ilustrasi. Foto: Ist

Aparat Gabungan Tembak Mati Warga Sipil di Enarotali, Papua

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com — Sejumlah warga sipil di Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai Enarotali, Papua, dikabarkan ditembak mati oleh aparat gabungan TNI/Polri dalam peristiwa kerusuhan di daerah tersebut, Minggu, (7/12/2014).

Korban yang mati masih simpang siur sampai berita ini ditulis. Menurut Vivanews, empat orang tewas, 4 orang kritis, dan 22 luka-luka. Kompas melaporkan, 5 orang tewas.

Ketua Dewan Adat Paniai, John NR Gobai menurut Vivanews melaporkan, penembakan dilakukan secara membabi buta di lapangan Karel Gobai kampung tersebut saat masyarakat sedang berkumpul sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak itu.

Menurut Gobai, peristiwa terjadi sekitar 24.00 WIT. Saat itu sebuah mobil jenis Toyota Fortuner melintas di perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur. Saat mobil melintas di Posko Natal, lampunya dalam keadaan padam.

“Karena lampu mobil padam, anak-anak yang berada di Posko Natal kemudian menegur pengendara mobil agar menyalakan lampunya. Namun yang terjadi pertengkaran mulut dan mobil terus melaju menuju Posko tim khusus Batalion Infantri 753 AVT di Uwibutu,” kata Gobai.

Tidak beberapa lama kemudian pengendara mobil Fortuner bersama sejumlah rekan mereka kembali ke Posko Natal dan melakukan penganiayaan terhadap anak berusia 12 tahun.

“Inilah yang memicu warga Kampung Ipakiye mendatangi Kota Enarotali yang jaraknya sekitar lima kilometer guna mempertanyakan pelaku penganiayaan serta meminta penjelasan aparat keamanan,” ucapnya.

Karena tidak ada penjelasan, massa membakar mobil Fortuner yang diduga digunakan saat melintas di Posko Natal di Kampung Ipakiye. Setelah membakar mobil, massa menyanyi dan menari, lalu tiba-tiba aparat menembaki kerumunan massa.

“Aparat gabungan TNI dan Polri ini menembaki kerumunan massa untuk mencoba membubarkan,” ujar Gobai.

Menurutnya, warga yang kritis saat ini dirawat di Rumah Sakit Madi Enarotali. Sedangkan yang tewas, masih di lapangan dikerumuni massa. “Situasi masih mencekam karena konsentrasi warga terus bertambah di lapangan Karel Gobai,” katanya.

Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Yotje Mende, membenarkan peristiwa penembakan itu. “Tapi penembakan dipicu adanya penyerangan terhadap Polsek Kota Enarotali, anggota hanya melakukan upaya pengamanan,” ujar dia seperti dikutip Vivanews.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono menyatakan, kerusuhan tersebut terjadi, Minggu (7/12/2014) sekitar pukul 20.00 WIT.

“Kami belum bisa pastikan berapa jumlah korban tewas. Kabar yang mencuat memang beragam, ada yang bilang 13, 6, dan 4. Tapi, itu belum terverifikasi. Kami masih melakukan pendataan,” kata Sulistyo seperti dikutip Kompas, Senin malam.

Identitas korban yang tewas yang dihimpun dari berbagai sumber adalah Alpius Youw (17), Alpius Gobai (17), Simon Degei (18) dan Yulian Yeimo (17). Sementara korban kritis, Yulianus Tobai (33), Selpi Dogopia (34), Jermias Kayame (48), Marci Yogi (52), Yulianus Mote (25) dan Agusta Degei (28).

Kompas melaporkan Selasa dini hari, (9/12/2014), bahwa Presiden Joko Widodo disebut sudah mendapat laporan soal penembakan tersebut. Kepolisian disebut masih melakukan verifikasi tentang jumlah korban dalam insiden tersebut.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno seperti dilaporkan mengatakan lokasi penembakan di Enarotali menjadi sebab hingga sekarang informasi yang dimiliki Pemerintah soal insiden tersebut masih simpang siur. Dia mengatakan informasi terakhir yang didapat adalah 4 warga sipil tewas.

Tedjo mengatakan, penembakan diduga berawal dari aksi massa yang melawan aparat. “Aparat membela diri, sudah diberikan peringatan, tapi akhirnya ada korban,” ujar dia.

Dikatakan Wakil Kepala Polda Papua dan perwakilan TNI Angkatan Darat sudah menuju ke lokasi tersebut. Diperkirakan mereka tiba di Enarotali pada Selasa (9/12/2014).

Sementara itu, seperti dilaporkan BBC Indonesia, Kepolisian Resor Paniai, Papua, mulai menyelidiki penembakan tersebut. |VIVANEWS|KOMPAS|BBC INDONESIA

 

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan