IRT yang dianiaya mendesak Polda Papua Barat menuntaskan kasusnya.

Babak belur dipukul pria tak dikenal, IRT ini pertanyakan kasusnya ke polisi

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Basnah (39 tahun), seorang Ibu Rumah Tangga empat kali mendatangi Kantor Polda Papua Barat mempertanyakan kelanjutan penanganan kasus penganiayaan terhadap dirinya pada 1 Agustus lalu. Ia mengaku sampai saat ini belum ada titik terang dari pihak penyidik Polda terkait pelaku yang tega menganiaya dirinya tanpa alasan yang jelas.

“Saya punya mau itu pelakunya tolong ditahan dulu sebab rasa trauma dan sakit hati ini masih menghantui saya karena tanpa alasan dan kesalahan saya di pukul di tendang dan bahkan di injak oleh pelaku yang diketahui berinisial SL,” ujar Basnah IRT kepada Cahaya Papua kemarin.

Basnah mengaku setelah dianiaya dia langsung mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Papua Barat membuat laporan polisi dan keluarlah Laporan Polisi Nomor: LP/224/VIII/2017/Papua Barat/SPKT tanggal 01 Agustus 2017.

“Sudah empat kali saya datangi Polda mempertanyakan perkembangan kasus ini, terakhir saya datang pada Jumat pekan lalu, namun penyidik meminta saya bersabar sebab penanganan kasus penganiayaan waktunya 100 hari,”  ujar Basnah.

Basnah mengaku mengatakan dia dianiaya pada 1 Agustus ketika hendak menemui temannya yang tinggal di Fanindi dalam. Mereka sudah melakukan janji bertemu namun temannya meminta agar bertemu di Cafe Tabea. Saat korban mendatangi lokasi dengan menggunakan motor tepat diparkiran caffe dia dikagetkan dengan pukulan keras tepat di pelipis mata sebelah kanan yang seketika membuatnya tersungkur ke tanah. Belum mendapat penjelasan kenapa dia dipukul, pelaku kemudian menendang korban di bagian belakang dan menginjak tepat di perutnya.

“Sempat ada karyawan caffe yang membela saya namun pelaku mengancam akan menembak semua orang yang ada kalau hendak membantu, pegawai caffe itu sempat di pukul sama korban,” Basnah me njelaskan.

Setelah membuat laporan polisi pada saat itu, korban kemudian di bawa ke rumah sakit dan sempat dirawat inap selama satu minggu. Selain trauma, korban mengeluarkan darah dari mulut dan juga air kemih. “Saya juga sempat melaporkan penganiayaan ini ke Badan Pemberdayaan Perempuan terkait kasus kekerasan terhadap perempuan,”  ujarnya menitikkan air mata ketika bercerita kepada Cahaya Papua.

Korban meminta pihak Polda Papua Barat agar serius menangani kasusnya sebab pihak keluarganya mengancam akan mencari pelaku jika kasus tersebut tidak diseriusi penegak hukum.

“Saudara-saudara saya terus menanyakan perkembangan pelaku kepada saya, mereka mengancam kalau sampai polisi tidak bisa mengatasi pelaku biarkan mereka yang akan mencari sendiri. Saya tidak ingin kejadian ini merembet jauh, makanya saya minta agar polisi bertindak cepat,” ujarnya.

Sementara Kapolda Papua Barat Brigjen Polisi Albert Rodja yang dikonfirmasi melalui Kabid Humas AKBP. Hari Supriyono terkait penanganan kasus penagniayaan terhadap Basnah, mengatakan korban bisa mendatangi penyidik mempertanyakan kasus ini.

“Kan Korban bisa tanya ke penyidik dan bertanya sampai sejauh mana penanganan kasusnya,” jawab Hari melalui pesan  Whatsapp, Rabu (23/8).

Saat di tanya terkait pengakuan korban bahwa sudah empat kali mendatangi Polda mempertanyakan perkembangan kasusnya namun belum ada perkembangan, Hari hanya menjawab singkat hak pelapor tanya perkembangan kasus ke penyidik.” Hak Pelapor tanyakan perkembangan kasus,” kata dia. (mar)

Tinggalkan Balasan