Sumber Foto: http://kelanakecil.wordpress.com

Bandara Babo, Pertemuan Antara Modernitas dan Masa Lalu

Oleh: Patrix Barumbun Tandirerung

BABO,TELUK BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com— Membayangkan sebuah Distrik atau Kecamatan di Tanah Papua pada umumnya akan menghadirkan imaji tentang daerah tertinggal dengan segala keterbatasannya.

Namun Distrik Babo di Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat yang kini menjadi basis operasi BP, sebuah perusahaan gas asal Inggris, jauh dari kesan itu.

Kehadiran perusahaan itu, sekaligus infrastruktur pendukungnya, paling tidak ikut menambah akses layanan publik. Salah satunya Bandara.

Memasuki Bandara Babo, saya cukup terhenyak melihat betapa fasilitas di bandara itu cukup komplit. Ada hanggar dengan struktur yang kokoh, serta landasan yang lumayan panjang. Sebuah pesawat kecil terparkir di dalam hanggar itu.

Saya juga melihat ada mobil pemadam kebakaran yang terparkir di samping hanggar. Di beberapa sudut juga ada alat pemadam kebakaran.

Pelayanannya cukup profesional. Satuan pengamanannya ramah dan tak sungkan membuat kopi sendiri di sebuah ruang kecil di ruang tunggu. Kecuali merokok, itu hanya bisa dilakukan di tempat-tempat khusus.

Apinya pun tidak boleh menggunakan korek. Di tempat khusus itu tersedia korek elektrik. Tinggal pencet, masukkan ujung rokok kedalam sebuah lubang kecil di korek itu dan asap pun muncul.

“Ini kampung tapi modern,” kata seorang, Oky, seorang kawan fotografer.

Hanya saja penumpang pesawat umumnya adalah Pekerja di Proyek BP Tangguh LNG. Mereka bekerja dengan sistem back to back. Pesawat yang terlihat pun adalah pesawat sewaan BP yang mengantar jemput para pekerja.

“Dulu ini bandara peninggalan perang dunia kedua. Saat BP masuk sengaja diperlebar,” kata Abdul Mutholib Refideso, warga setempat, Minggu (30/11/2014)

Terlepas dari layanan dan modernitas yang mewarnainya, sejumlah peninggalan perang dunia ke- 2 di sekitar Bandara ini juga terlantar begitu saja. Padahal, aset sejarah ini bisa menjadi media pendidikan sekaligus objek wisata.

“Sudah banyak yang hilang. Dulu ada pesawat utuh. Sampai sisa-sisa bom dan bangkai kendaraan,” kata Abdul Mutholib.

Saat pesawat hendak mendarat, dari ketinggian terlihat begitu banyak lubang di sekitar areal bandara. Menurut warga setempat, itu adalah bekas ledakan bom yang dijatuhkan tentara sekutu.

Babo merupakan salah satu basis terakhir pertahanan Jepang di wilayah kepala Burung Tanah Papua ketika perang dunia kedua berkecamuk. Ketika bandara diperluas, juga ditemukan ratusan 360 bom.

Di sekitar bandara juga masih ada bangkai pesawat. Namun kebanyakan sudah dibongkar, besinya dijual ke pengumpul.

“Disini masih banyak besi tua. Biasanya ada orang dari kota yang datang cari,” tutur Tholib—sapaan Abdul Mutholib.(*)

Tinggalkan Balasan