Ketua Dewan Seni Papua Barat Ely Krey di Sanggar seninya. Dewan Seni Papua Barat menilai karya kain batik Papua yang beredar di wilayah Provinsi Papua Barat adalah hasil jiplakan.

Batik Papua Potensial Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat

MANOKWARI, Cahayapapua.com—  Deputi Direktur Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Bang Indonesia (BI) Ika Tajaningrum menilai Batik Papua memiliki potensi yang cukup besar untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat di wilayah provinsi Papua maupun Papua Barat. 

Dia menuturkan, bahwa BI saat ini sedang melaksanakan program klaster bagi UMKM di setiap daerah. Komoditas unggulan di setiap daerah menjadi titik perhatian bank central tersebut untuk dikembangkan sebagai salah satu penyangga perekonomian daerah dan nasional.

“Batik tak hanya menjadi unggulan Indonesia, melainkan sudah menjadi komoditas market dunia. Kita menilai Batik Khas Papua juga bisa mengambil bagian,” katanya.

Dia menjelaskan, selain komoditas pangan yang memicu inflasi atau kenaikan harga, komoditas nonpangan seperti Batik, juga menjadi perhatian BI pada program pengembangan UMKM.

BI lanjutnya, akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas inflasi. Komoditas unggulan daerah akan menjadi titik perhatian BI untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah maupun perekonomian masyarakat.

Dia menyebutkan, upaya BI bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan memperlancar distribusi, terutama untuk komoditas yang menjadi faktor pemicu inflasi.

Oleh kerena itu, paparnya lagi, Batik Papua sudah cukup familier dan beredar luas di wilayah Papua dan Papua Barat. Kain batik motif Papua mudah ditemui baik di pasar-pasar tradisional maupun butik-butil pakaian. Meskipun demikian, komoditas ini belum memberikan dampak ekonomi secara signifikan bagi masyarakat dan perajin batik di daerah ini.

Ketua Dewan Seni Papua Barat Aly Krey menyebutkan, kain batik yang selama ini beredar luas sudah bukan karya asli para seniman di daerah ini. Batik tersebut merupakan hasil jiblakan dari karya asli para perajin.

Meskipun demikian, kondisi ini tak membuatnya patah arang untuk terus berkarya menciptakan motif-motif baru untuk memperkaya karya khas batik Papua.Saniman Papua yang membuka galeri di Jl.Yogyakarta, Manokwari, telah menyiapkan sebanyak 50 motif batik baru. Karyanya itu sedang dalam proses pengurusan hak cipta. Ia ingin memperoleh hak paten atas karya yang ia buat sehingga tidak diklaim orang lain.

Dia menjelaskan, seni batik motif Papua adalah salah satu kekayaan budaya warisan leluhur. Seni ini erat kaitanya dengan pahat dan ukiran, namun perhatian pemerintah dan masyarakat kurang.

“Kain batik yang beredar tersebut telah kehilangan hak cipta. Selain itu, motif batik tersebut telah mengalami perubahan dan kombinasi,” kata dia.
Dia menyebutkan, saat ini jumlah perajin batik di Manokwari bahkan di wilayah Teluk Cendrawasih sudah semakin minim dan hampir tidak ada. Karya batik yang beredar saat ini adalah karya para seniman terdahulu.

Ia berpandangan, seni batik dan ukiran serta pahat asli Papua nyaris terabaikan, akibatnya, Papua kini digempur oleh batik-batik yang dijiblak dari hasil karya para seniman di daerah ini.

Krey berharap pemerintah daerah melalui instransi terkait kembali menginventarisir dan mencari pemilik hak cipta atas batik tersebut. Ia tak mau karyanya mengalami nasib serupa dengan batik-batik yang selama ini beredar di pasaran.

“Skill yang dimiliki para perajin batik ini tidak didapat dari bangku sekolah, melainkan keahlian yang sudah menjadi warisan nenek moyang. Lebih tegasnya bahwa, seluruh karya ini adalah jatidiri orang Papua yang tidak boleh dijiplak sembarangan,” ujarnya lagi.

Ia pun mengajak para pemuda asli Papua menjaga warisan leluhur tersebut, dengan belajar kepada para seniman yang masih ada. Ia ingin, anak-anak Papua mewarisi kemampuan dalam menciptakan karya batik, ukir dan pahat agar warisan tersebut tidak punah dan dicuri oleh orang lain.(IBN)

Tinggalkan Balasan