Kondisi jalan menuju merdey yang rusak parah

Begini Sulitnya Mencapai Merdey di Teluk Bintuni Lewat Darat

BINTUNI,CAHAYAPAPUA.com – Transportasi masih menjadi masalah serius terutama untuk menjangkau deerah-daerah pedalaman, salah satunya Distrik Merdey – Kabupaten Teluk Bintuni. Untuk menuju Distrik Merdey dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui tranportasi udara dan transportasi darat.

Sarana transportasi udara yang biasa mendarati Bandara Merdey adalah maskapai penerbangan Susi Air dengan rute penerbangan Bintuni – Merdey (PP) atau Manokwari – Merdey (PP). Namun jadwal penerbangan hanya beberapa kali dalam seminggu dengan biaya tiket per orang sekitar Rp. 950.000,- dari Bintuni. Sementara penerbangan dari Manokwari – Merdey merupakan penerbangan subsidi dengan harga tiket lebih murah.

Jika melalui jalan darat, maka pilihannya dihadapkan dengan medan yang cukup berat. Hal ini seperti pengalaman media ini saat berkunjung ke Distrik Merdey baru – baru ini. Jenis kendaraan yang bisa melalui medan berat itu hanya kendaraan double gardan, seperti mobil Hilux, Strada dan lainnya. Untuk mencapai Merdey kita pun harus melalui beberapa distrik, yaitu Distrik Tuhiba, Tembuni dan Mayado.

Selanjutnya dihadapkan dengan kondisi hutan primer dengan tekstur jalan tanah liat berlempung. Kondisi jalan rusak parah sudah menjadi pemandangan yang lazim selama perjalanan sepanjang puluhan kilometer.

Kondisi jalan yang terjal dan licin sering menghambat laju perjalanan. Bahkan tak jarang kendaraan yang ditumpangi harus berhenti saat berada di jalan yang rusak, sehingga harus dibantu dengan beberapa orang. Bahkan mobil yang kami tumpangi harus dibantu dengan kawat seling dan tali yang diikatkan ke pohon dan ditarik dengan alat yang terdapat pada mobil atau dikenal dengan sebutan wings. Alhasil secara perlahan mobil pun dapat keluar dari kubangan lumpur yang kedalamannya mencapai setengah meter.

Waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari Bintuni ke Merdey sepanjang kurang lebih 80 kilometer adalah selama 5 jam. Waktu tempuh akan lebih lama jika dalam cuaca hujan, karena kondisi jalan yang ditempuh akan lebih buruk.

Tantangan perjalanan kami pun belum selesai, sesampainya di dekat ibu kota Distrik Merdey kami harus menyeberangi sungai yang cukup lebar. Meskipun tidak dalam, namun arus sungai cukup kuat sehingga untuk menyeberangi harus dibantu dengan perahu motor atau long boat milik masyarakat setempat. Biaya yang dibutuhkan untuk menyeberangi sungai mencapai ratusan ribu rupiah untuk sekali jalan. Hal ini mungkin wajar, karena di Merdey harga BBM terutama bensin bisa mencapai 50 ribu rupiah per liter.

Sesampainya di seberang, kami pun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer untuk mencapai pusat ibu kota Distrik Merdey. Kondisi transportasi yang sulit inilah yang menyebabkan biaya hidup di daerah ini sangat tinggi. Padahal sebagian besar masyarakat disini menggantungkan hidupnya dari bertani, berkebun dan pekerjaan kasar lainnya.|ARIMURTI

Tinggalkan Balasan