Belasan warga Manokwari jadi korban investasi bodong

  • Tiap orang menderita kerugian 25 hingga Rp.350 juta
  • Kasus telah dilaporkan ke Kepolisian sejak 2016

MANOKWARI— Belasan warga Manokwari dilaporkan menjadi korban investasi bodong oleh seseorang yang disebut sebagai salah satu pegawai bank di Manokwari. Kerugian akibat investasi bodong ini ditaksir mencapai sekitar 1,4 miliar rupiah dan telah dilaporkan ke Polres Manokwari.

Korban investasi bodong yang mulai beroperasi sejak 2015 ini menelan korban sedikitnya 14 orang yang merupakan warga Distrik Prafi. Para korban menderita kerugian puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Rika Astuti, salah satu korban mengungkap, ia awalnya didatangi seseorang yang disebut sebagai MT, yang mengaku merupakan pegawai Bank Mandiri. Ia ditawarkan keuntungan berlipat ganda jika mau melakukan investasi periklanan dibawah payung PT Noken Jaya Abadi.

Rayuan MT berhasil membuat Rika tergiur dan mendatangi bank untuk memimjam kredit. Tak tanggung-tanggung, Rika yang sehari-harinya beroprofesi sebagai pedagang ini meminjam kredit sebesar Rp. 350 juta.

“Uang itu saya setor tepatnya pada 2015 melalui TH yang dipercayakan MT sebagai koordinator untuk wilayah SP 3” kata Rika yang ditemui, Rabu (8/11).

“Janji pak MT waktu itu bahwa investasi ini jika saya setor 50 juta, akan mendapat keuntungan berlipat sekitar 150 juta dalam jangka 6 waktu bulan,” cerita Rika.

Rika mengaku akibat investasi bodong tersebut, ia terpaksa menjual rumahnya untuk menutupi cicilan bank.

Yuli Susianti, korban investasi bodong lainnya mengatakan, dirinya mengirim uang ke Noken Jaya Abadi melalui transfer bank sebesar Rp. 250 juta.

Agak berbeda dengan Rika, Yuli mengaku setelah ditawari investasi tersebut, dirinya bersama sejumlah rekannya diarahkan ke Bank Mandiri untuk mengurus kartu ATM yang secara fisik berbeda dengan kartu ATM lain. Di kartu ATM tersebut tertulis nama PT. Noken Jaya Abadi lengkap dengan nama pemilik perusahaan.

Karena tak kunjung mendapat keuntungan pada bulan keenam seperti yang dijanjikan, para korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polres Manokwari dengan nomor LP/801/XII/2016/Papua Barat/Res Manokwari tertanggal 29 Desember 2016. Laporan tersebut menyertakan bukti transaksi bank termasuk bukti-bukti pendukung.

“Setelah membuat laporan kita dipanggil untuk memberikan keterangan dan juga menyerahkan bukti transfer dan kartu jenjs ATM yang dikeluarkan pihak bank, namun hingga saat ini belum ada perkembangan dari polisi,” tambah Ratih korban lainnya.

Ratih mengatakan sejak laporan polisi dibuat dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi dari korban, belum ada pemberitahuan resmi dari Polres Manokwari terkait perkembangan kasus ini.

“Kita pernah mempertanyakan hal ini ke Polres namun jawaban kepada kita bahwa bersabar saja,” ujar Ratih yang uangnya raib Rp 100 juta akibat investasi tak jelas tersebut.

Rata-rata para korban yang mengadu ke polisi masing-masing tiga kali memenuhi panggilan untuk dimintai keterangan, bahkan kadang hingga malam.

“Selain kita dimintai keterangan di Polres, pihak kepolisian juga sempat ke SP untuk mengorek keterangan,” ujarnya menambahkan.

Para korban mengatakan terdapat sekitar 14 orang warga Distrik Prafi telah menyetor sejumlah uang ke perusahaan tersebut, paling kecil Rp. 25 juta dan paling besar Rp. 350 juta.

Kepala Bank Mandiri Cabang Manokwari Wahyu Irjayanto, yang coba dihubungi kemarin malam melalui aplikasi berkirim pesan WhatsApp, untuk meminta klarifikasi, hanya membalas bahwa ia sedang tugas ke luar daerah. Pesan berikutnya belum berbalas hingga berita ini ditulis. (mar/*)

 

Tinggalkan Balasan