Untuk sampai di Kampung Imboisrati, harus berjalan kurang lebih 4 km dari Kampung Srandabey. Kehidupan masyarakat di kampung tersebut masih sangat memprihatinkan.
Untuk sampai di Kampung Imboisrati, harus berjalan kurang lebih 4 km dari Kampung Srandabey. Kehidupan masyarakat di kampung tersebut masih sangat memprihatinkan.

Berada di Distrik Tertua, Kampung Imboisrati Masih Andalkan Pelita

Meskipun berada di dataran distrik tertua, penduduk Kampung Imboisrati, Distrik Warmare, belum menikmati layanan pemerintah. Belum adanya akses jalan, pendidikan, kesehatan di kampung tersebut, membuat kampung tersebut tergolong terisolir.

­­­

 

UNTUK menjangkau Kampung Imbosrati, harus berjalan kurang lebih 4 kilometer dari Kampung Srandabey–kampung terdekat—dari Distrik Warmare. Kampung tersebut sangat jauh dari keramaian.

Akses jalan menuju kampung itu juga tergolong cukup membahayakan, bagaimana tidak, untuk menunju kampung yang memiliki jumlah penduduk hanya 400-an itu, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Bahaya lain yang mengancam masyarakat setempat adalah banjir, yang sewaktu-waktu dapat terjadi di kala musim penghujan.

Setidaknya ada dua aliran sungai aktif dan beberapa sungai mati yang wajib dilewati sebelum tiba di  Kampung Imboisrati.

Sabtu pekan lalu, Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan sempat berkunjung ke kampung tersebut, saat hendak meresmikan gedung Gereja GPKAI Jemaat Betel Kwatibou.

Di hadapan bupati, masyarakat menceritakan kerinduan mereka akan perhatian pemerintah, baik kabupaten, provinsi hingga pusat, agar dapat membangun fasilitas di kampung tersebut.

Seperti layanan kesehatan, sekolah, akses jalan yang layak, hingga penerangan. Sejauh ini warga setempat masih mengandalkan pelita dan mesin genset yang hanya dihidupkan pada saat-saat tertentu.

Penerjemah Tarian Adat, Jemy Ullo mengatakan, melalui tarian penyambutan kepada bupati, yang dilakukan kaum bapak di Kampung Imboisrati, mengharapkan adanya perubahan yang dilakukan pemerintah terhadap kampung tersebut.

Untuk menuju kota, kaum bapak berserta anak-anak harus mengalawali aktifitas mereka dengan berjalan kaki mulai pukul 04:00 WIT pagi.

Mereka harus menembus gelapnya hutan serta derasnya aliran sungai untuk sampai di Kampung Srandabey. Karena untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sekolah, hingga akses transportasi menuju kota Manokwari, harus lebih dulu menuju kampung tersebut.

Dikisahkan, pada saat musim penghujan anak-anak Kampung Imboisrati harus mengubur niatnya untuk mengeyam bangku pendidikan, karena aliran sungai yang membela akses jalan menuju sekolahnya diterjang banjir.

Kampung yang juga ditemukan adanya  Penyakit Fillariasis (Kaki Gajah) ini juga sangat membutuhkan pelayanan kesehatan secara rutin, mengingat jarak terdekat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dari Kampung Imboisrati adalah Puskesmas Warmare yang jika diperkirakan jarak total mencapai 10 kilo meter.

Namun dari semua permintaan tersebut, yang paling diharapkan masyarakat adalah pembukaan akses jalan antar kampung agar bisa dilalui dengan kendaraan roda dua maupun empat, sehingga jangkauan beberapa fasilitas yang belum dibangun dapat diakses menggunakan kendaraan.

Usai mendengar semua permintaan masyarakat, Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan mengatakan, terkait permintaan akses jalan masyarakat harus bisa terlebih dahulu memikirkan akses terdekat yang bisa dijadikan sebagai jalan antar kampung yang dapat menghubungkan Kampung Imboisrati.

Bupati juga meminta masyarakat mendukung seluruh kinerja pemerintah, dengan tidak melakukan tuntutan ganti rugi atas tanah yang nantinya dijadikan sebagai jalan maupun fasilitas pemerintah.

“Jangan sampai pada saat pembongkaran hutan dalam membuat akses jalan baru terjadi  palang memalang, karena pada dasarnya saya siap melaksanakan kesepakatan itu, supaya dalam tahun 2017 sudah bisa dibongkar,” ujarnya.

Mengingat dalam penganggaran yang dilakukan pemerintah tidak terdapat anggaran ganti rugi hak ulayat.

Bupati menyebutkan, pembangunan jalan akan dimulai dengan pembongkaran, sementara proses pengaspalan baru bisa dilakukan pada tahun anggaran selanjutnya.

“Kalau setiap hari saya jalan ke kampung ini mungkin saya bisa kurus, karena tadi saya sudah jalan dan cukup jauh disertai medan yang tidak hanya datar tetap ada lewat kali, naik gunung,” canda bupati. (ADITH SETYAWAN)

Tinggalkan Balasan