Beras Medium Papua Barat dibawah HET

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Pasokan dan stok beras di wilayah Papua Barat masih cukup stabil dan pemberlakuan harga beras jenis Medium di daerah tersebut masih dibawah harga eceran tertinggi (HET).

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Papua Barat Melkias Warinussa di Manokwari, Kamis, mengatakan, beberapa pekan lalu sempat bereda kabar harga beras medium di wilayah Manokwari sebesar Rp.12.500 perkilo gram. “Dari kabar itu kita cek lapangan, ternyata beras medium disini masih berada pada kisaran Rp.9 ribu. HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp.10.250,” kata Melkias.

Ia mengutakan, pasokan beras di Manokwari dan daerah lain Papua Barat cukup stabil. Selain Bulog, kebutuhan beras daerah tersebut dipasok dari petani lokal. “Bahkan beras dari petani lokal pun harganya masih sekitar 12 sampai 14 perkilo. Itu beras bagus dari beras medium,”kata dia lagi.

Untuk beras premium, rata-rata didatangkan dari wilayah Jawa dan Sulawesi oleh para distributor barang di masing-masing daerah. Dari peninjauan lapangan, harga beras premium di berbagai daerah Papua Barat berkisar antara Rp.15 ribu hingga Rp.16 ribu/kg.

Melkias mengutarakan, berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga stabilitas stok dan harga beras. Pemantauan lapangan terus dilakukan dan pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Bulog di setiap daerah.

“Begitu ada pergerakan harga, operasi pasar langsung dilakukan. Seperti beberapa waktu lalu, ada kabar kenaikan hingga 12 ribu untuk beras medium, setelah kita cek ternyata kabar itu tidak betul,” ujarnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, saat itu Bulog bersama pemerintah daerah dan Kementerian Perdagangan saat itu langsung menambah pasokan beras ke pasar. Hingga akhirnya harga beras turun dari Rp.9 ribu ke Rp.8.500/kg.

Selain operasi pasar dan koordinasi dengan Bulog, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan PT Pelni, distribusibutor baraang, serta lembaga jasa pelayaran sperti PT SPIL dan Temas. “Kita laksanakan rapat koordinasi secara rutin. Kami ingin memastikan, alur distribusi lancar serta tidak ada permainan pasar,” sebutnya lagi.

Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Papua Barat menargetkan tahun ini produksi beras petani lokal bisa mencapai 120 ribu ton. Terkait hal ini, lanjut Melki, pihaknya pun akan berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan. Pihaknya berharap produksi beras lokal bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mencukupi kebutuhan beras daerah.

“Untuk total kebutuhan beras di Papua Barat kami sedang menghitung ulang. Sangat bagus jika produksi petani sudah bisa meng-cover kebutuhan beras kita. Sehingga tidak perlu pasokan beras dari luar daerah,”pungkasnya. IBN)

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: