Berkas

“Tadi siang dari mana?” mace tanya poro yang lagi bikin rapi dia pu pakaian di lemari. “Sa pi cek informasi di kantor gubernur. Ya, sapa tau ada lowongan.” “Sa kira ko pu umur su lewat to. Su tara bisa jadi pegawai negeri. Rambut dan kumis su putih satu-satu,” mace sindir. “Kalau rambut putih bukan ukuran, anak SMP juga su ada yang rambut putih,” poro bela diri. “Baru informasi apa yang ko dapat?” “Di propinsi dorang bilang belum ada formasi. Dorang belum ajukan, karena masih pusing dengan persoalan di dalam, terutama tenaga honor yang dia pu jumlah ribuan,”  Poro jelaskan sambil tangan terus kerja. Dia lanjut lagi,”Baru sekarang pendaftaran, kasih masuk berkas dan tes melalui internet atau sistem on line. ” “Itu sistem apa lagi. Macam-macam sampe. Baru bagaimana?” mace tara faham. “Ini su berlaku di seluruh indonesia. Sa kira kalau pake sistem ini bagus. Cuma untuk kitorang di Papua ni belum semua orang terbiasa dengan barang itu. Apalagi dorang yang ada di pedalaman sana. Listrik saja belum, apalagi jaringan internet. Makanya ada yang protes. Dorang mau pake sistem lama,” Poro jelaskan panjang lebar. “Sa kira tara perlu pusing. Masih ada pekerjaan lain. Tara mesti jadi pegawai to.” “Sama saja. Sekarang itu kalau mau diterima kerja harus bisa komputer dan pake internet.”  “Iyo ka?” mace macam tara yakin. “Betul, malah mama dorang tara lama lagi bisa jual sayur pake internet. Tara perlu pi jualan di pasar.” “Aee tara usah sudah, nanti kasih masuk berkas-berkas dan urus kelakuan baik lagi…maalas.

Tinggalkan Balasan