Kapolres didampingi Wakapolres, Kasat Reskrim dan lainnya saat merilis kasus Tipikor dana haji.

Besok, 2 tersangka kasus haji digiring ke Pengadilan Tipikor Manokwari

KAIMANA, Cahayapapua.com— Kasus tindak pidana korupsi Bansos dana haji Kabupaten Kaimana tahun 2011/2012 sebesar Rp.3,5 Miliar terus bergulir. Empat tahun lamanya, setelah melewati tahapan penyelidikan, penyidikan hingga dinyatakan P21 oleh Kejaksaan Negeri Fakfak, besok, Jumat (26/1/2018), dua tersangka AH dan RRN, yang ditahan di sel Polres Kaimana dan Rutan Kaimana, akan digiring ke Pengadilan Tipikor Manokwari.

Setelah mengirim dua tersangka beserta barang bukti berupa dana hasil sitaan sebesar Rp.110.000.000, kasus ini akan terus dikembangkan dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait keterlibatan dua tersangka lain berinisial AHK dan AR, yang merupakan pejabat yang ditunjuk Pemerintah Daerah mengelola dana Bansos haji.

Demikian Kapolres Kaimana AKBP Roberto A. Pandiangan saat menggelar jumpa pers tindak pidana korupsi Bansos dana haji Kabupaten Kaimana Tahun 2011 dan 2012 di Halaman Satuan Reskrim Polres Kaimana, Rabu (24/1/2018).

Didampingi Wakapolres Kompol Langgia dan Kasat Reskrim AKP Wilman Simalango, Kapolres menjelaskan, temuan tindak pidana korupsi ini bermula dari adanya dana Bantuan Sosial (Bansos) naik haji untuk masyarakat dari APBD Kabupaten Kaimana Tahun 2011 dan 2012.

“Total dana untuk Bansos haji ini kurang lebih 3,5 miliar. Dana ini diperuntukkan kepada masyarakat yang sudah didaftar untuk naik haji sebanyak 40 orang. Dari Pemerintah Daerah dana ini dikelola oleh AR dan AHK yang kemudian AHK melakukan kerjasama dengan HH selaku Direktur PT. Mitra Bisnis Mandiri dan RRN pemilik travel untuk memberangkatkan haji melalui kedua travel,” jelas Kapolres.

Selanjutnya, pada 22 Desember 2011, AHK melakukan transfer kepada HH sebesar 1,8 Miliar untuk booking sheat. “Kemudian 5 maret 2012, HH kembali menerima transfer dari Pemda sebesar 1,4 M lebih, sebagai pelunasan dana haji. Sehingga total dana Bansos haji yang ditransferkan kepada HH berjumlah 3,2 Miliar lebih. Dari hasil pemeriksaan, tersangka AH mengambil keuntungan sekitar 200 juta,” ujar Kapolres.

Masih terkait kronologis pemeriksaan kasus, Kapolres lebih jauh menjelaskan, pada 19 Maret 2012, tersangka HH melakukan transfer ke rekening tersangka RRN sebesar 1 Miliar lebih, dan pada 12 April 2012 sebesar $123.500. “Ternyata 39 calon jemaah haji batal berangkat karena dua perusahaan tersebut tidak terdaftar di Kementerian Agama sebagai agen travel yang bisa memberangkatkan haji,” terang Kapolres.

Dijelaskan, setelah melakukan audit investigasi di BPKP Perwakilan Papua Barat di Manokwari, ditemukan kerugian negara sebesar Rp.3.589.000.000. “Jumat 2 tersangka akan dikirim ke Manokwari, karena Kaimana dan Fakfak tidak ada Pengadilan Tipikor, sekaligus P22 kepada Kejaksaan. Kasus ini masih kita kembangkan terus karena barang bukti yang disita baru sebesar 110 juta. Selebihnya masih kita proses untuk mencari dimana kerugian negara yang sebesar 3,4 M,” ujarnya lagi.

Ditanya proses lanjutan terhadap 2 tersangka lainnya yakni AHK dan AR, Kapolres jelaskan, keterlibatan dua tersangka sedang dalam proses penyidikan. “Dua tersangka lama ini tetap kita lakukan penyidikan. Selama proses berlangsung, keduanya tidak dilakukan penahanan,” pungkas Kapolres. (isa)

Leave a Reply

%d bloggers like this: