Petani asal Kabupaten Pegunungan Arfak sedang menurunkan hasil bumi di Pasar Wosi dari mobil gardan ganda, alat transportasi utama yang bisa ditumpangi sebagian besar warga Arfak.
Petani asal Kabupaten Pegunungan Arfak sedang menurunkan hasil bumi di Pasar Wosi dari mobil gardan ganda, alat transportasi utama yang bisa ditumpangi sebagian besar warga Arfak.

Biaya Distribusi BBM Pegunungan Arfak Rp 3.500/Liter

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Biaya distribusi bahan bakar minyak (BBM) dari Manokwari menuju Pegunungan Arfak mencapai Rp.3.500 perliter. Beruntung pemerintah pusat melalui PT Pertamina menerapkan subsidi silang sehingga warga Arfak tidak menerima dampak atas tingginya biaya distribusi tersebut.

“Harga normal BBM terutama premium di Pegunungan Arfak semestinya mencapai Rp.10 ribu/liter sebagai akumulasi atas harga pokok bensin bersubsidi dengan biaya transportasi. Dengan adanya subsidi biaya distribusi dari Pertamina sehingga harga BBM di daerah tersebut sama dengan daerah lain,” kata Direktur CV Arfak Makmur Abadi Fery Auparay, Rabu (2/11)

Dia menjelaskan distribusi BBM dari Depot Pertamina Manokwari menuju Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) yang ia kelola di Pegunungan Arfak dilakukan melalui perjalanan darat. Kondisi infrastruktur jalan menuju daerah tersebut masih sangat memprihatinkan.

Untuk sampai dilokasi tersebut, kendaraan pengangkut BBM harus melalui tanjakan dan turunan terjal, sungui serta risiko longsor.

Hal ini dinilai menjadi kendala yang cukup menantang serta dapat menimbulkan biaya distribusi yang tidak sedikit. Melalui subsidi silang,  Pertamina berkomitmen mewujudkan program ‘BBM Satu Harga’ di daerah tersebut.

“Sesulit apapun kondisinya, pemerintah melalui PT Pertamina berkomitmen mewujudkan BBM satu harga di wilayah pedalaman Papua dan Papua Barat,” katanya menambahkan.

Dia mengungkapkan, biaya distribusi BBM menuju daerah otonomi baru ini hampir mencapai Rp.3500 perliter. Jika biaya tersebut dibebankan kepada konsumen, masyarakat di daerah tersebut tidak bisa menikmati BBM murah layaknya daerah lain.

“Negara memberikan subsidi yang cukup besar, maka diharapkan kemudahan ini dimanfaatkan semaksimal. Jangan lagi ada calo atau spekulan-spekulan penjual BBM dengan harga yang memberatkan masyarakat,” ujarnya lagi.

Dia menambahkan, pengangkutan BBM menuju daerah tersebut ia lakukan menggunakan mobil truk dengan biaya sewa antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Satu unit truk hanya bisa mengangkut sebanyak 13 drum atau tiga ton BBM.

Ia mendukung permohonan Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroy kepada Presiden Joko Widodo atas pengadaan pesawat pendistribusi BBM ke daerah ini. Keberadaan pesawat tak hanya membantu Pegunungan Arfak, namun juga sangat diharapkan di daerah pedalaman Papua Barat yang selama ini belum bisa menikmati BBM murah.

“Keberadaan pesawat bisa menekan biaya serta resiko pengangkutan BBM ke daerah pedalaman. Sebab, sebagian besar jalan darat di daerah pedalaman masih sangat parah dan berisiko kecelakaan,” ungkapnya.

Menurut dia,butuh waktu cukup lama dan biaya yang besar untuk membangun infrastruktur jalan dan jembatan di Arfak. Pesawat khusus pengangkut BBM bisa menjaga stabilitas pasokan BBM menuju daerah ini.

“Jalan di daerah itukan sedang dibangun, sehingga kondisi tanah masih labil. Belum lagi sungai-sungai besar yang harus kita lalu. Bila hujan turun bukan tidak mungkin distribusi BBM bisa terganggu,” pungkasnya. (IBN)

Tinggalkan Balasan