Ilustrasi

Bintuni Bebaskan Lahan Seluas 8 Hektar untuk Area Pelabuhan

BINTUNI, Cahayapapua.com–– Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sudah membebaskan tanah seluas delapan hektar di Muturi SP 1 Distrik Manimeri untuk dipersiapkan menjadi lokasi pelabuhan nusantara (pelabuhan kapal Pelni).

Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Teluk Bintuni Yosep Rony Samuel mengatakan tidak ada titik lain yang dianggap cocok untuk dijadikan pelabuhan tipe nusantara, kecuali lahan tersebut.

Dikatakan Rony, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan perencanaan jalan masuk, bukan pembangunan jalan masuk sekaligus untuk mengetahui secara pasti jumlah lahan yang harus dibebaskan untuk keperluan pelabuhan.

“Inikan karena lewat hutan lindung, cagar alam. Jadi yang dilakukan kemarin survei mencari titik baik atau jalur yang sebaik mungkin untuk menghindari kali-kali, supaya tidak banyak bangun jembatan,” jelasnya di kantor bupati baru-baru ini.

Lebih lanjut, mantan kepala Bappeda ini menjelaskan setelah itu pihaknya akan mengajukan kembali hasil survei tersebu ke tata ruang departemen kehutanan untuk mendapatkan pembebasan lahan untuk dijadikan jalan.

Terkait informasi sudah adanya Amdal, Rony menegaskan bahwa Dishub belum melakukan sampai proses tersebut. Pasalnya, Amdal akan dibuat pada saat mulai merencanakan pembangunan fisik pelabuhan.

“Kita baru membebaskan lahan, jalan masuk, lahan sisi darat. Kalau dermaganya sudah otomatis ditempat itu (bekas pelabuhan Belanda),” katanya lagi.

Menurutnya rencana pembangunan pelabuhan tersebut sudah dimulai sejak tahun 2009. Namun dalam prosesnya terbentur pengurusan perijinan karena sebagian besar wilayah pesisir kabupaten penghasil gas tersebut merupakan hutan lindung.

“Kita sudah bersyukur dapat lahannya, dan sudah masuk dalam tata ruang provinsi seluas delapan hektar. Dan sekarang kita lagi usahakan jalan masuknya,” ungkapnya.

Ditanya berapa panjang dan luas lahan yang dibutuhkan untuk akses jalan masuk, Kadin Dishub mengaku belum bisa memastikan karena masih dalam proses penyelesaian survei. Survei rencananya berlangsung selama tiga bulan dengan anggaran dari Dishub tahun 2016.

“Kalau sesuai dengan kontrak diharapkan bisa selesai 4 bulan. Saat ini penyusunannya yang belum selesai. Nanti kalau sudah ada hasil penyusunan kita akan lakukan konsultasi publik awal,” tuturnya.

Dia menambahkan pihaknya sudah melaporkan ke bupati terkait program tersebut dan mendapat respon yang baik dari kepala daerah yang baru ini. “Saya sudah jelaskan apa yang sudah direncanakan oleh kepala daerah yang lalu, dan bupati mempersilahkan untuk dilanjutkan,” ujarnya.

Sementara saat ditegaskan kembali apakah cuma hanya ada satu-satunya titik yang cocok dijadikan pelabuhan nusantara, dia menjelaskan setelah dilakukan survei dibeberapa titik oleh Dishub, maka ditentukan daerah tersebut lah yang paling cocok.

“Ada yang mengatakan di seputaran muara Meyado, tetapi dalam hasil survei Dishub provinsi waktu itu tidak merekomondasikan disana (Muara Meyado), mereka merekomondasikan di Muturi,” pungkasnya. (ART)

Tinggalkan Balasan