Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw (memegang kacamata) meninjau pembangunan Alun-alun Teluk Bintuni, beberapa waktu lalu. Pemda Teluk Bintuni memperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp. 50 miliar untuk menyelesaikan pembangunan alun-alun yang akan menjadi salah satu ikon daerah tersebut. (Insert) maket alun-alun Teluk Bintuni. Arif Triyanto/Cahaya Papua

BP Indonesia segera bangun ratusan rumah warga Sebyar

  • Puluhan tenaga kerja luar Papua tujuan Tangguh ditahan di Sorong

BINTUNI, Cahayapapua.com— BP Indonesia segera membangun ratusan unit rumah layak huni, kepada masyarakat adat yang berada di area terdampak operasional Tangguh, tepatnya di wilayah Sebyar, mulai tahun ini.

Rencana pembangunan tersebut terungkap dalam sosialisasi BP Indonesia kepada warga daerah tersebut bertempat di Kantor Klasis Teluk Bintuni Jumat lalu. Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan SKK Migas dan Pemda Teluk Bintuni.

Kepala Suku Besar Sebyar Aci Kosepa mengatakan, Pertemuan tersebut digelar untuk membicarakan masalah perumahan yang akan dibangun di Distrik Taroy, Weriagar dan Tomu.

Dia mengatakan, dalam pertemuan tersebut pihak BP Indonesia menyatakan pada tahun ini akan mulai membangun 452 rumah di wilayah adat suku besar Sebyar. Wilayah adat tersebut berada di tiga distrik, Tomu, Weriagar dan Taroy (distrik pemekaran baru).

Dalam pertemuan itu, Aci Kosepa mengatakan, dia meminta Pemda Teluk Bintuni untuk memastikan bahwa rumah yang akan dibangun harus benar-benar layak huni dan diperuntukkan kepada warga yang memang memiliki hak. “Karena daerah suku besar Sebyar inilah yang memiliki gas,” katanya baru-baru ini.

Aci Kosepa merincikan bahwa rumah yang akan dibangun sebanyak 171 unit di Distrik Werigar, 205 unit di Distrik Tomu dan 85 sisanya di Distrik Taroy. “Pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan luas rumah 9 x 7 berbahan kayu,” ungkapnya.

Mewakili masyarakat adat Sebyar, dia dalam pertemuan itu mengaku menerima rencana perusahaan gas asal Inggris itu untuk membangun rumah layak huni kepada masyarakat adat Sebyar.

Meski begitu dia mengingatkan agar pembangunan mempertimbangkan kondisi daerah tersebut yang berawa. Karena itu ia berharap tiang penyanggah bangunan harus dicor. “Karena kalau menggunakan kayu akan mudah keropos,” katanya.

Aci Kosepa juga berharap pembangunan rumah ini dilakukan di lahan baru, bukan membongkar rumah warga lantas dibangun. “Karena masih banyak lahan luas yang bisa dijadikan lokasi pemukiman.”

 

Tenaga kerja luar Papua

Sementara itu secara terpisah, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Papua Barat menyatakan ikut memantau upaya pencegahan tenaga kerja dari luar Papua untuk dipekerjakan pada pembangunan train 3 Tangguh.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat Paskalina Jamlean mengatakan, saat ini ada puluhan tenaga dari luar Papua tertahan di Sorong karena tak diperkenankan masuk ke Bintuni.

“Nasib puluhan tenaga kerja ini belum jelas, apakah dipulangkan ataukah diperbolehkan masuk ke Bintuni. Ada tenaga pengawas kami di sana (Sorong). Pencegahan tenaga kerja dari luar ini akan kami tangani sesuai aturan,” ujarnya.

Terkait masalah tersebut, pada Sabtu (10/2) ada pertemuan di Sorong. Namun dia mengaku tidak bisa hadir karena bertabrakan dengan agenda yang lain terkait persiapan Peringatan Hari Keselamatan Kerja yang akan dilaksanakan hari ini.

Dia mengutarakan, sudah ada ketentuan pada amdal Train 3 terkait penyerapan tenaga kerja. Perusahaan yang ingin mendatangkan tenaga kerja dari luar Papua harus transparan terkait kriteria keahlian tenaga kerja yang akan didatangkan.

Dikatakan, tenaga kerja dengan keahlian tertentu bisa didatangkan dari luar Papua dengan catatan bila di Papua tak ada tenaga skill seperti yang dibutuhkan pihak perusahaan. “Namun bila diambil dari luar maka harus ada akad yang dikeluarkan Disnakertrans karena resiko kerja tinggi,” tuturnya.

Hingga saat ini pihaknya belum mengeluarkan akad persetujuan mendatangkan tenaga kerja dari luar Papua. Dia berharap pembangunan Train 3 LNG Tangguh membuat peluang kerja bagi putra-putri Papua.

“Bekerja di negari ini harus memberdayakan anak-anak Papua. Anak-anak Papua harus diberdayakan di semua perusahaan, termasuk di pembangunan Train 3 LNG Tangguh,” tambahnya. |Arif Triyanto | Toyiban

Leave a Reply

%d bloggers like this: