Kepala BPOM Manokwari, Mojaza Sirait. Foto : Elyas Estrada/Cahaya Papua.

BPOM imbau masyarakat hentikan penggunaan obat mengandung policresulen

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Sejak beredarnya surat edaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang policresulen beberapa waktu lalu, BPOM di Manokwari langsung mengambil langkah dalam mengawasi peredaran obat yang mengandung policresulen.

Hal tersebut dikatakan Kepala BPOM Manokwari, Mojaza Sirait, bahwa untuk mengawasi peredaran obat yang mengandung policresulen telah menggandeng ikatan apoteker Indonesia Papua Barat dan memastikan obat yang mengandung policresulen yakni albothyl ditarik dari peredaran.

“Kita sudah koordinasi dengan Ikatan Apoteker Indonesia Provinsi Papua Barat, dam memastikan produk tersebut ditarik oleh distributor Papua Barat untuk menarik produk albothyl, ini sedang kita pantau,” ujarnya, Sabtu (24/2).

Pria yang kerap disapa Moses itu mengatakan, penarikan produk Albothyl dari pasaran, BPOM Manokwari memberikan waktu hingga satu bulan sejak 15 Februari lalu. Selain Albothyl, kata Moses, produk Viostin DS dan Enzyple juga sedang dalam proses penarikan, obat tersebut terindikasi mengandung DNA Babi.

Produk-produk tersebut diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi), telinga, hidung dan tenggorokan (THT), sariawan (stomatitis aftosa), dan gigi (odontologi).

Atas temuannya ini, sekarang BPOM telah membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga indikasi yang diajukan disetujui. Tak hanya Albothyl, produk sejenis juga akan mendapat perlakukan yang sama.

Imbauan tersebut bukan tanpa solusi. BPOM juga menyarankan obat pengganti untuk keluhan sariawan.

“Masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C,” katanya.

Bila sakit berlanjut, masyarakat (disarankan) agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat. (Elyas Estrada)

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: